saving

Jangan Asal Percaya Influencer Investasi di Sosmed. Bahayanya FOMO Pengen Cepet Tajir dari Investasi

Jumat, 28 Agustus 2026 | 14:15 WIB
Jangan mudah percaya dengan influencer keuangan yang ada di media sosial walaupun followernya banyak. Kita tetap harus waspada karena investasi yang menjanjikan return menggiurkan wajib kita waspadai. (Generata by Google Gemini/PejuangKantoran.com)

PejuangKantoran.com - Bagi anak muda di kota besar seperti Jakarta, Tangerang, dan lainnya, scrolling TikTok atau Instagram kini tidak hanya mencari hiburan, melainkan juga berburu tips investasi modal kecil yang sedang viral.

Namun, di balik kemudahan informasi digital ini, terdapat ancaman nyata berupa jebakan finfluencer palsu yang memanfaatkan psikologi Fear of Missing Out (FOMO). Alih-alih mendapatkan keuntungan berlipat (cuan), ketakutan tertinggal tren ini justru kerap berujung pada FOMO-S (Fear of Missing Out - Stress/Scammed). Artikel finansial ini akan mengupas tuntas fenomena bahaya influencer keuangan bodong di media sosial serta menyajikan panduan taktis bagi Gen Z untuk menyaring informasi secara mandiri demi mengamankan aset masa depan mereka.

Baca Juga: ETF Emas Masuk Bursa, Sebelum Gen Z Ikut-Ikutan Investasi, Kenalan Dulu Apa Itu ETF Emas dan Apa Plus dan Minusnya

Baca Juga: Gaji Pertama, Investasi Pertama: Harus Mulai dari Mana?

Anatomi Jebakan Finfluencer Palsu: Manipulasi Psikologis Lewat Layar Gadget

Media sosial saat ini dipenuhi oleh kreator konten yang memamerkan tangkapan layar keuntungan portofolio ratusan persen, kemewahan instan, hingga klaim "pasti untung" dalam waktu singkat. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berulang kali mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak oleh rekomendasi investasi yang tidak memiliki izin resmi.

Ciri utama dari finfluencer atau pembuat sinyal palsu meliputi:

  • Menjual Mimpi Kaya Instan: Mereka fokus pada hasil akhir yang mewah, bukan pada proses, risiko, atau analisis fundamental makroekonomi.
  • Metode Pom-Pom Aset: Mendorong pengikut untuk membeli saham, token kripto, atau instrumen tertentu secara masif tanpa keterbukaan informasi kompensasi (endorsement tersembunyi).
  • Urgensi Palsu: Menggunakan kalimat manipulatif seperti "Beli sekarang sebelum terlambat!" atau "Hanya tersisa waktu 5 menit untuk masuk!" guna memicu kepanikan psikologis pembaca.

Ketika seorang investor pemula masuk ke pasar hanya bermodalkan arahan akun viral tersebut tanpa analisis mandiri, mereka sangat rentan terjebak di puncak harga (buying at the top). Begitu harga aset jatuh, sang kreator konten menghilang, meninggalkan para pengikutnya dalam kondisi stres akibat kerugian finansial yang masif (Scammed dan Stress).

Baca Juga: Halo Gen Z! Yuk Investasi Produktivitas Kerja Lewat Tidur Teratur dan Hidrasi yang Cukup!

Tags

Terkini