Lampir, Kisah Urban Legend yang Mengangkat Isu Beauty Privilege Agar Relate dengan Penonton Muda

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Minggu, 11 Februari 2024 | 09:00 WIB
Film Lampir, yang tayang di bioskop mulai 14 Februari 2024, mengangkat topik yang relatable dengan isu masa kini. (Instagram @filmlampir)
Film Lampir, yang tayang di bioskop mulai 14 Februari 2024, mengangkat topik yang relatable dengan isu masa kini. (Instagram @filmlampir)

PejuangKantoran.com - Sebagai salah satu OTT (Over-the-Top) lokal, Vision+ kini ikut memproduksi film panjang orisinal. Layanan streaming berbayar di bawah naungan MNC Group ini merilis Lampir sebagai film panjang pertama yang diproduksi sendiri.

Inspirasi film Lampir datang dari Gandhi Fernando, yang di film ini berperan sebagai fotografer bernama Roby. Sudah sejak lama ia ingin menggarap sosok hantu. Baru setelah bertemu sutradara Kenny Gulardi, ide bisa tergarap.

Baca Juga: Kampanye di Sidoarjo, Prabowo Gelar Shalawat Dipimpin oleh Gus Miftah

Keduanya lalu berkolaborasi mengembangkan ide cerita ke film Lampir. Menurut Kenny Gulardi, Gandhi Fernando sudah membawa judul Lampir ketika bertemu dengannya.

“Tapi, saat itu kita belum mengembangkan ceritanya. Lampir ternyata sebuah mitos dan juga kepercayaan di sebuah daerah. Soal perempuan yang ingin terlihat cantik.

“Dari situ kita sadar jika cerita Lampir bisa dikonsepkan ke horor!” terang Kenny Gulardi, saat konferensi pers Lampir di CGV Grand Indonesia, Selasa (6/2/2024).

Film yang naskahnya kemudian digarap oleh Gandhi Fernando ini menceritakan sepasang kekasih, Wendy (Jolene Marie) dan Angga (Rory Asyari), yang melakukan pemotretan foto pernikahan di sebuah villa.

Baca Juga: Budiman Sudjatmiko : Ini Pesan Penting untuk Mereka yang Membangun Narasi Kebencian

Pasangan ini ditemani Roby (Gandhi Fernando) dan kekasihnya, Agnes (Ardina Rasti), dan dua teman mereka, Nanda (Hana Saraswati) dan Rizki (Ge Pamungkas).

Ternyata, villa itu dihuni sosok Lampir yang terobsesi dengan kecantikan. Dalam upayanya mencari mangsa yang lebih cantik dari dirinya, sosok tersebut mengurung Wendy dan kawan-kawan di villa. Mereka pun berjuang mati-matian untuk bisa keluar dari villa tersebut.

Beauty privilege

Menurut Gandhi, walaupun ide Mak Lampir ini sudah ada 10 tahun yang lalu, ia sempat bingung mengolah kisah urban legend ini. Yang pasti, ia ingin cerita Lampir lebih kekinian agar penonton bisa merasa ada kedekatan.

“Waktu kecil, sudah tahu sosok Mak Lampir. Tapi kalau kita me-remake urban legend begitu saja, kurang modern. Pengennya kayak film Tuyul dulu.

Baca Juga: Prabowo Sebut Indonesia Sebagai Bangsa yang Berhati, Berjiwa, dan Berakhlak Besar

“Dimodernisasi dan dibuat dalam gaya berbeda, walau intake-intake dari Mak Lampir itu sendiri, which is ingin cantik dan abadi, akan tetap diambil!” tukas aktor kelahiran 8 Februari 1990 ini.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X