PejuangKantoran.com - Pemutaran perdana film Panggil Aku Ayah yang berlangsung di Epicentrum XXI, Jakarta, Rabu (30/07/2025), jadi istimewa karena dihadiri Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Wihaji, dan Wakil Menteri Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka.
Wihaji mengatakan bahwa Indonesia sedang mengalami krisis di mana anak-anak tumbuh tanpa ayah.
“Di Indonesia, ada 20,9 persen anak-anak yang kehilangan ayah. Mereka disebut fatherless. Anak-anak ini seperti Intan (tokoh utama di film). Selain itu, ada 11 juta dari 72 juta kepala keluarga yang kepala rumah tangganya perempuan.
Baca Juga: 15 Film Indonesia yang Rilis Bulan Agustus: Ada Nicholas Saputra Main di Film Musikal!
"Menurut saya, cerita film ini sangat lengkap. Bahwa ada orang seperti Dedi atau Tatang (tokoh utama di film) yang bukan ayah, tetapi menghadirkan sosok ayah,” ujar Wihaji saat membuka konferensi pers.
Film Panggil Aku Ayah ini mengisahkan Intan (Myesha Lin), anak semata wayang Rossa (Sita Nursanti) yang dijadikan jaminan untuk membayar utang kepada Dedi (Ringgo Agus Rahman) dan sepupunya, Tatang (Boris Bokir).
Intan, atau panggilan akrabnya Pacil, akhirnya harus tinggal bersama Dedi dan Tatang karena ditinggal sang ibu bekerja sebagai TKW ke luar negeri hingga ia dewasa.
Ikatan batin akhirnya terjalin antara Dedi dan Pacil. Sayang kedekatan itu terusik dan jadi momen yang sangat mengandung bawang ketika Tatang harus menjalankan amanah Rossa (setelah meninggal) untuk mengembalikan Pacil ke ayah kandungnya.
“Film ini merupakan komitmen kami di Visinema Studios untuk menghadirkan konten yang baik untuk anak-anak di keluarga Indonesia. Konten yang bisa punya toleransi.
"Bukan hanya menghibur tetapi memiliki makna agar kita bisa sama-sama berefleksi terhadap apapun yang terjadi di dunia ini. Setidaknya, sedikit demi sedikit kita bisa menyuarakan apa yang menjadi kegelisahan kita,” terang produser Anggia Kharisma.
Baca Juga: Mira Lesmana Ungkap Poster dan Trailer 'Rangga dan Cinta', Segar tapi Juga Bernuansa Nostalgia
Sebagai adaptasi dari cerita film Korea berjudul Pawn, Panggil Aku Ayah memiliki relevansi kuat dengan hal-hal lokal dari Indonesia. Mulai dari lokasi yang diambil di pasar tradisional hingga tipikal rumah yang berdekatan satu sama lain sekaligus jadi tempat usaha.
Selain itu juga kefasihan berdialog dengan logat Sunda oleh para karakter, hingga penggambaran karakter yang tidak asing dalam keseharian seperti penagih utang, anak yang kesepian, atau ibu tunggal.
Melokalisasi cerita adaptasi menjadi kisah lokal bukanlah hal yang mudah, karena tidak boleh mencederai kisah aslinya. Itu sebabnya proses riset dan penulisannya saja butuh waktu 1 tahun.
“Kita melakukan riset untuk cerita dan kita compare. Banyak banget yang kita nilai scene-scene yang tidak boleh hilang dalam adaptasi.
Artikel Terkait
“Tak Sempurna”: Duet Canti dan Adipati Dolken yang Jujur dan Emosional
'A Normal Woman', Film Teror Psikologis dari Netflix yang Mendorong Perempuan untuk Jujur pada Diri Sendiri
Bukan Sekadar Hobi: Ini Cara Seru Menambah Teman dan Mengisi Waktu Luang
13 Figur Lilin Taylor Swift Terinspirasi “The Eras Tour” Hadir di Madame Tussauds
Joko Anwar Hadirkan Pemain Lintas Generasi dan Lintas Negara untuk Ghost In The Cell
Review 'Sore: Istri dari Masa Depan', antara Cinta dan Fenomena Ilmiah Relativitas Waktu
3 Cerita Seru dari Ari Irham dan Para Pemain Lain saat Syuting Film Horor Misteri 'Rego Nyowo'