PejuangKantoran.com - Setelah Ancika 1995 dan Agak Laen, yang sukses mencetak rekor 1 juta penonton pada awal 2024, satu lagi film non horor yang bisa kamu nikmati bulan Februari ini: Bonnie.
Rumah produksinya, Tawang Khan Production, terlihat sangat serius dalam menggarap Bonnie, film action atau secara spesifik disebut film street fight ini.
Baca Juga: Kampanye Akbar di Bandung, Prabowo Berpesan Agar Warga Tidak Saling Mengadu Domba
“Film laga di Indonesia belum banyak, dan saya ingin memberi warna lain di industri ini," terang sutradara Agus H. Mawardy saat konferensi pers Bonnie di Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta, Selasa (30/1/2024).
Ide membuat film action tentang jagoan perempuan yang bukan superhero ini muncul saat dirinya berada di Thailand.
“Cerita film ini sudah saya bangun sejak 2015 dan hanya ditulis di handphone. Baru bisa terealisasi ketika bertemu dengan Tawang Khan Production di akhir tahun 2022.
“Perempuan di dalam film-film saya adalah simbol kekuatan sekaligus penyeimbang kehidupan,” katanya.
Baca Juga: Sorban NU Sebut Program Makan Siang dan Susu Gratis Sangat Mengena bagi Warga Nahdliyin
Bonnie merupakan film action remaja yang menceritakan kehidupan keras Bonnie (Livi Ciananta) sejak kecil hingga SMA. Ketika kecil, ia sudah diajarkan oleh sang ayah Sembara (Ariyo Wahab) untuk bisa membela dirinya.
Dengan demikian, setiap kali ada orang di sekelilingnya mencoba mem-bully dirinya, Bonnie diajarkan untuk melawan balik.
Bonnie, yang dari kecil belajar ilmu bela diri bersama gurunya Frank (Max Metino), memang membuatnya tak gentar melawan siapapun. Namun, sikap seperti itu ternyata tidak disetujui oleh ibunya (Nadila Ernesta).
Untuk bisa menangkap esensi aksi laga di film yang direncanakan tayang mulai 29 Februari 2024 ini, Tawang Khan Production mendatangkan sutradara khusus adegan fight, Fandy Fight.
Baca Juga: Lowongan Kerja Assistant Security Manager, Commercial di British American Tobacco/BAT Indonesia
Sedangkan untuk adegan lainnya, film digarap oleh sutradara Agus H. Mawardy dan Marsha.
“Seperti di luar negeri, ada part tersendiri. Tidak semua sutradara bisa mengerjakan drama dan action. Ada spesialisnya.