Jokan, sapaan akrab sutradara berusia 48 tahun ini, harus mencari sampai ke Pangandaran untuk menemukan gua buatan Belanda yang sudah tidak dipakai lagi selama puluhan tahun itu.
“Di atas Pangandaran, ada sebuah gua yang ketika kita masuk, kita dipenuhi kelelawar. Gua yang sudah tidak fungsional selama puluhan tahun.
Baca Juga: 4 Motivasi Orang Melakukan Ziarah Kubur dalam Islam
"Bawahnya rawa-rawa, harus kita tutupin biar bisa diinjak. Kita mendapat gua itu setelah mencari banyak kali tempat!” tukasnya, menceritakan soal Gua Juliana Bengkok.
Ada beberapa kriteria unik yang ditetapkan oleh Jokan dalam memilih lokasi syuting. Sebab, lokasi ini tentunya akan menjadi tempat kerja kru dan pemain dalam kurun waktu yang cukup lama.
Pertama, lokasi harus sesuai dengan skenario. Kedua, lokasi harus memiliki karakter tersendiri.
“Kita merasa lokasi, tempat syuting, harus punya karakter tersendiri. Ketika membuat filmnya, lokasi juga menjadi karakter," ujar sutradara yang sempat mengenyam pendidikan di ITB itu.
Baca Juga: Jepang Siapkan Lowongan Kerja untuk 800000 Pekerja Asing
"Ada muatannya. Ada sejarahnya, dan akan terasa saat kita hadir di situ.
"Apakah bulu kuduk berdiri? Pokoknya, standarnya kalau bulu kuduk kita nggak berdiri, kita tidak akan pilih."
Menurut Jokan, lokasi bukan hanya harus menyeramkan, tetapi juga memiliki karakter karena memiliki cerita dan history-nya sendiri. (Syanne Susita)