Di sisi lain, sekolah Ibo mengadakan kompetisi futsal di mana ketiga sahabatnya ingin sekali mengikuti kompetisi tersebut bersama Ibo.
Dilema pun dialami Ibo, antara mengikuti minat dan bakatnya atau menuruti harapan orangtua agar fokus belajar.
Baca Juga: Dua Hati Biru, Utang Para Pembuat Film tentang Kelanjutan Kisah Bima dan Dara di Dua Garis Biru
Mengambil setting tahun 1994 saat berlangsungnya Piala Dunia, banyak hal yang ditonjolkan dalam film yang pasti akan membuat penonton nostalgia.
Mulai dari properti yang digunakan di film, kostum, dan tentunya dialog-dialog komedinya.
“Jarang yang berani mengangkat bentuk komedi dari Indonesia Timur (ke film). Kalaupun ada, hanya selipan di 3-4 adegan.
“Sedangkan Keluar Main 1994 menampilkannya secara keseluruhan. Jadi, ini perlu di-support. Selain itu, menunjukkan Indonesia Timur pada masa itu menyenangkan,” terang Arie Kriting.
Baca Juga: Putri Ayudya Sempat Kewalahan saat Bertindak sebagai Pelatih Akting Aktor Cilik di Dua Hati Biru
Apa yang disampaikan Arie Kriting memang sejalan dengan keinginan produser film yang berkeinginan meningkatkan gairah industri perfilman di Makassar.
“Semoga Keluar Main 1994 dapat menjadi perwakilan kuat bagi perfilman Makassar,” ujar produser Liani Kawati.
“Bukan hanya penikmat film di Makassar tapi dapat dinikmati juga oleh penonton di Indonesia. Kehadiran film ini menjadi bagian dari upaya mengangkat potensi sinematik daerah Makassar,” pungkasnya. (Syanne Susita)