PejuangKantoran.com - Selain Siksa Kubur, Badarawuhi di Desa Penari, dan Dua Hati Biru yang sedang merajai box office, film Indonesia yang ditunggu-tunggu bulan ini adalah The Architecture of Love (TAOL).
Film terbaru yang diangkat dari novel karya Ika Natassa ini menampilkan Nicholas Saputra dan Putri Marino sebagai pemeran River dan Raia. Kisah bergulir seputar bagaimana kedua tokoh tersebut melanjutkan kehidupan setelah mengalami luka atau trauma.
“Film TAOL adalah kisah yang hangat. Penonton akan ikut hanyut dalam romansa yang penuh emosi dari Raia dan River,” kata produser Chand Parwez Servia saat konferensi pers The Architecture of Love di Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta, Kamis (25/4/2024).
Baca Juga: Jalan Ninjaku: 4 Cara agar Terlihat Cerdas tanpa Perlu Mengucapkan Sepatah Kata Pun
“Penonton diajak mengikuti dinamika yang terjadi di antara dua hati yang sebenarnya sama-sama menjalani trauma dengan kesepiannya di kota New York.”
Chand Parwez berharap film TAOL bisa menghibur sekaligus mengaduk emosi penonton lewat akting memukau Nicholas Saputra dan Putri Marino, selain tentunya cerita yang luar biasa dari Ika Natassa dan eksekusi apik sutradara Teddy Soeriaatmadja.
Film dimulai dari kebuntuan Raia, penulis terkenal yang merasa tidak mampu menulis lagi. Ia memutuskan terbang ke New York demi mengejar inspirasi untuk novel terbarunya.
Kota tersebut ternyata mempertemukannya dengan River, arsitek misterius dari Jakarta. Perjumpaan itu jadi awal pertemanan di antara keduanya.
Namun, di balik perjumpaan yang menyenangkan tersebut, keduanya menyimpan tragedi yang membuat mereka menjadi kesepian. Dinamika bagaimana keduanya bisa saling melukai tapi juga saling menyembuhkan, membuat alur cerita jadi menarik.
Selain dua nama besar pemeran utama dan ceritanya, hampir seluruh aspek film ini tak kalah menarik. Daya tarik lainnya adalah keterlibatan Teddy Soeriaatmadja sebagai sutradara film.
Baca Juga: Bank of Singapore Pecat Karyawan yang Memakai Tunjangan Kesehatan untuk Membeli Skincare
Sutradara yang sebelumnya menggarap film Berbalas Kejam itu sengaja menjauhi spot-spot lokasi populer di New York, yang membuat sinematografi film terlihat impresif.
“Dari arahannya di skenario, gedung beserta landscape-nya sudah cukup spesifik. Cuma saya dan tim diberi kesempatan hunting lokasi ke New York. Jadi, kita mencari lokasi-lokasi yang benar-benar otentik New York.
“Tidak secara spesifik art deco, hanya bagaimana mendapatkan lokasi yang bisa menggambarkan New York secara otentik, tetapi bukan di lokasi-lokasi yang too touristy!” ungkap sutradara kelahiran Kobe, Jepang, 7 Februari 1975 ini.
Walau banyak yang memuji film ini, Teddy enggan mengambil seluruh kredit keindahan gambar serta sinematografi yang tersaji dalam film sebagai kerja kerasnya sendiri.