PejuangKantoran.com - Hari Raya Waisak adalah salah satu festival Buddhis paling penting, karena merayakan kelahiran, pencerahan, dan wafatnya Buddha menuju Nirwana.
Kata Waisak/Vesak berasal dari kata Sansekerta "Vaiskha", karena Waisak dirayakan pada bulan purnama bulan Waiska (April-Mei) dalam kalender Hindu dan Buddha.
Tahun ini, umat Buddha merayakan Hari Raya Waisak 2568 BE pada 23 Mei 2024.
Baca Juga: Tren TikTok Spaving Bukan Trik Menghemat Uang yang Bisa Dipraktikkan secara Efektif?
Namun, belum begitu banyak yang kita ketahui tentang kehidupan Buddha, yang terlahir dengan nama Siddhartha Gautama. Padahal, peringatan Hari Raya Waisak cukup menarik minat penganut agama lain.
Buktinya, Festival Lampion Waisak yang digelar setiap tahun di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, selalu terjual habis oleh para wisatawan sejak jauh hari.
Menyaksikan penderitaan fana
Hinduisme adalah agama mayoritas di Nepal, dan sangat mempengaruhi struktur sosial dan politiknya. Namun Buddha (Buddha Tibet) menjadi agama yang dianut oleh beberapa kelompok etnis.
Siddhartha Gautama lahir pada tahun 623 SM di Taman Lumbini, sekitar 300 km dari Kathmandu, Nepal. Hal ini dibuktikan dengan adanya prasasti pada pilar yang didirikan oleh Kaisar Maurya Asoka pada tahun 249 SM.
Terlahir dari Raja Shuddhodana dan Ratu Mayadewi yang keluarga bangsawan, Siddhartha menjalani kehidupan yang istimewa dan mewah.
Sang ayah melindunginya agar tidak menyaksikan penderitaan seperti penuaan, penyakit, dan kematian.
Baca Juga: Sama-sama Pakai Batik di Bali, Ini Makna Motif Batik yang Dipakai Prabowo dan Elon Musk
Namun ketika berusia 29 tahun, Siddhartha meyakinkan Channa, kusir keretanya, untuk membawanya keluar dari halaman istana dan masuk ke kota.
Itu kali pertama Siddhartha melihat penderitaan fana, dalam bentuk orang tua, orang sakit, dan mayat. Dia kemudian melihat seorang biksu dan tersentuh oleh ketenangannya.
Siddhartha pun berniat melepaskan kehidupan pangerannya dan menjadi seorang petapa, dengan harapan mengakhiri penderitaan.