PejuangKantoran.com - Netflix merilis film The Shadow Strays pada Kamis (17/10/2024), yang merupakan karya kedua sutradara Timo Tjahjanto untuk platform streaming film tersebut.
Karya pertama Timo untuk Netflix adalah The Big 4. Sama seperti The Big 4, The Shadow Strays merupakan film action dengan koreografi pertarungan yang sangat kreatif, dengan kekerasan ekstrem yang bakal bikin penonton bergidik.
Film ini mengisahkan tentang perempuan pembunuh bayaran dengan nama sandi 13 (Aurora Ribero), yang tergabung dalam jaringan pembunuh bawah tanah yang dikenal sebagai "The Shadows."
Baca Juga: Kini, Faskes Punya Fasilitas Pembiayaan yang Mudah Dijangkau berkat Kontrak BRI dan BPJS Kesehatan
Remaja perempuan berusia 17 tahun itu berlatih di bawah bimbingan Umbra (Hana Malasan). Karena misi besar pertamanya gagal, 13 pada dasarnya diskors dari tugas-tugasnya.
13 lalu bertemu dan menjalin persahabatan dengan Monji (Ali Fikry), seorang anak laki-laki dari lingkungan tempat tinggalnya.
Namun ketika Monji diculik oleh sindikat kejahatan lokal, 13 tak kenal lelah dalam mengejar para penjahat ini, meskipun ia harus menentang mentornya.
"Sebelumnya saya membuat [film seperti] Headshot dan The Night Comes For Us, dan sebagian besar dari film tersebut mengandalkan pemeran pria, terutama mereka yang sudah familiar dengan dunia seni bela diri," kata Timo, saat pemutaran filmnya di Festival Film Internasional Toronto (TIFF).
"Itu menjadi semacam lembar contekan dalam pembuatan film-film tersebut.
“Saya pikir niat awalnya adalah untuk menantang diri sendiri seperti, 'Hei, bagaimana kalau saya membuat film laga dengan bobot yang sama, tanpa melibatkan ahli bela diri?'
“Seiring dengan penulisan cerita, cerita tersebut menjadi sesuatu yang jauh lebih personal," ujar Timo, yang punya julukan The Mo Brothers saat kolab bareng sutradara Kimo Stamboel.
Elemen personal dalam The Shadow Strays hadir dalam bentuk kisah cinta, sebelumnya tidak pernah ada dalam film-film Timo. Bumbu cinta tersebut menambahkan lapisan kedalaman yang menarik pada ceritanya.
"Saya selalu merasa bahwa ini adalah film yang banyak bercerita tentang cinta, dan dalam artian itu sangat spesifik. Ini tidak selalu tentang cinta romantis, tetapi tentang kerinduan dan keinginan," katanya.
"Saya ingin membuat film tentang kerinduan, keinginan, dan kerinduan untuk dicintai, harus mencintai seseorang... dan bagaimana kalau saya membungkusnya dalam film laga."