senggang

Wedding Planner dan Wedding Organizer Itu Beda. Ini yang Harus Kamu Lakukan Saat Keduanya Bukan Dari Satu Perusahaan.

Jumat, 9 Mei 2025 | 15:55 WIB
Wedding planner dan wedding organizer dua jasa yang berbeda. Ini yang harus kamu lakukan jika keduanya bukan dari satu perusahaan. (Vladimirs Poplavskis)
  • Pasangan yang sudah punya rencana dan vendor sendiri, hanya butuh tim pelaksana.

 

Planner dan Organizer Berbeda Perusahaan

Umumnya di Indonesia, wedding planner dan wedding organizer jadi satu perusahaan. Namun bisa juga beda perusahaan. Jika kamu memilih yang terakhir ini, supaya antara konsep dengan pelaksanaannya bisa match, maka berikut ini yang harus kamu lakukan: 

  • Pastikan semua pihak tahu dan fokus pada peran masing-masing.
    1. Wedding planner fokus pada konsep, vendor, dan perencanaan jangka panjang, sedangkan wedding organizer fokus pada pelaksanaan teknis di hari-H.
    2. Pastikan kedua pihak tahu batas tugas mereka dan tidak saling tumpang tindih.
  • Perkenalkan dan hubungkan keduanya sejak awal.
    1. Setelah kontrak ditandatangani, buat grup komunikasi (WhatsApp/Email) dengan kamu, planner, dan WO.
    2. Adakan pertemuan koordinasi minimal 1–2 kali menjelang hari-H (bisa online).
  • Minta Planner Menyerahkan Dokumen ke WO.
    1. Seperti:
      • Rundown acara lengkap;
      • Daftar vendor dan kontak person;
      • Floor plan / layout venue;
      • Jadwal kedatangan dan teknis vendor.
    2. WO akan menggunakan ini sebagai pegangan hari-H.

Baca Juga: 21% Karyawan Gen Z Tak Ingin Menikah dengan Orang yang Gajinya Lebih Rendah daripada Mereka

  • Minta wedding planner memberi briefing ke WO.
    1. Agar WO tahu visi konsep acara secara keseluruhan (warna, gaya, vibe, tata letak, urutan adat, dan sebagainya).
    2. Ini penting agar pelaksanaan hari-H sesuai konsep awal.

  • Pastikan ada koordinator utama Hari-H
    1. Tentukan siapa yang jadi "penanggung jawab utama" di hari-H.

  • Umumnya WO yang ambil alih, tapi planner bisa tetap standby jika perlu. Tujuannya agar kamu tidak bingung harus tanya siapa saat acara berlangsung. Gunakan kontrak tertulis dengan keduanya.
  • Pastikan ruang lingkup dan tanggung jawab tidak tumpang tindih atau kosong. Ini mencegah “lempar-lemparan tanggung jawab” saat terjadi masalah. 
  • Evaluasi akhir bersama. Setelah acara selesai, kamu bisa mengevaluasi kerja keduanya — bisa jadi referensi untuk teman/keluarga lain atau jika kamu mau memberi testimonia tau review.

Dengan koordinasi yang baik, meskipun wedding planner dan wedding organizer berasal dari dua perusahaan berbeda, mereka tetap bisa bekerja sama profesional. Kunci suksesnya ada di tangan kamu sebagai penghubung utama. ***

Halaman:

Tags

Terkini