PejuangKantoran.com - Salah satu film horor yang akan tayang di awal tahun 2026 adalah Kuyank, yang mengangkat kisah kelam cinta, adat dan praktik ilmu hitam.
Menurut penulis cerita sekaligus sutradaranya, Johansyah Jumberan, film ini merupakan bagian dari semesta film Saranjana: Kota Ghaib yang dirilis pada 2023. Setting-nya, 7 tahun sebelum gerbang mistis Saranjana terbuka.
"Butuh dua tahun untuk mengerjakan film yang tantangan paling besarnya adalah membangun visual film. Pengerjaan CGI-nya yang paling luar biasa, dan mengerjakannya hampir setahun.
Baca Juga: Rio Dewanto Kangen Soto Banjar dan Ketupat Kandangan Usai Syuting 'Kuyank' Selama Sebulan Lebih
"Kita mencoba seotentik mungkin dengan Kalimantan," ucap Johansyah, saat konferensi pers Kuyank di Signature Park Grande Apartment, Jakarta, Senin (22/12/2025).
Pembuatan film yang dibintangi Rio Dewanto ini terasa sangat emosional karena seluruh kru film yang terlibat, mulai dari tim art, penyutradaraan, sound, makeup, pencahayaan, hingga properti, berasal dari Kalimantan.
Bahkan lagu soundtrack-nya juga dikerjakan oleh tim musik yang mengerjakan Saranjana. Asal tahu saja, lagu soundtrack Saranjana sudah dipakai 4,5 juta kali sebagai konten.
Sutradara yang akrab disapa Joe ini ingin membuat musik lebih ikonik lagi, karena ia berharap bukan hanya filmnya yang menggugah penonton tetapi juga musiknya.
Irama lagunya pun mengambil dari budaya Melayu Banjar, sehingga filmnya sangat terasa nuansa Kalimantannya dari latar, musik, cerita, dan tentunya bahasa yang digunakan.
Mengingat lokasi syuting hampir 90 persennya dilakukan di Kalimantan, dan menggunakan teknologi CGI (computer-generated imagery) dalam menciptakan sosok Kuyank, Joe mengaku biaya produksi film ini berkali-kali lipat dibanding film Saranjana.
Baca Juga: 7 Cara agar Profesi Penerjemah Bisa Bertahan di Era AI, karena Kecepatan Mesin Tak Bisa Dilawan
"Aku tidak bisa berbicara angka, tapi produksinya berkali-kali lipat dari Saranjana. Bayar pemain, termasuk Om Rio, pun berkali-kali lipat.
"Intinya, dari segi pemain, kualitas produksi, tidak main-main. Kita pakai kamera Alexa 35 dan bawa peralatan khusus kamera 1,5 ton. Itu diterbangkan dari Jakarta ke Kalimantan.
"Jujur saking susahnya, kita sampai mengekspor dua kamera, lampu dan peralatan lainnya. Memang di Kalimantan ada keterbatasan peralatan. Bahkan gensetnya pun kita pakai punya TNI!"
Namun, Johansyah rela melakukan semua hal itu demi menjaga keotentikan film dalam mewakili Kalimantan. Semua set hampir 60 persennya dibangun dari awal, termasuk rumah yang jika di dalam trailer terlihat terbakar.