senggang

Enggan Sekadar Ikut Arus, Bayu Skak Pilih Mengangkat Budaya Lokal Madura di Film 'Foufo'

Rabu, 8 Juli 2026 | 22:34 WIB
Film "Foufo" mengisahkan Muslim (Tretan Muslim), pedagang barang rongsok di Kampung Rombeng, Madura, yang menemukan bangkai UFO berikut awaknya. (Youtube @cinema21)

PejuangKantoran.com - Hingga 7 Juli 2026, film Sekawan Limo 2: Gunung Klawih garapan Bayu Skak sudah mengumpulkan 2.102.304 penonton. Angka ini akan terus bertambah karena film masih diputar di bioskop-bioskop. Pencapaian tersebut termasuk fantastis mengingat semakin sulitnya film-film Indonesia menembus 1 juta penonton.

Meski begitu, kesuksesan Sekawan Limo tidak membuat Bayu Skak mengandalkan komedi horor sebagai pakem untuk membuat film berikutnya. Sebagai seniman, ia merasa perlu untuk keluar dari zona nyaman dan mencoba sesuatu yang baru.

“Berawal dari keberhasilan film saya kemarin yang horor komedi, ini adalah proses untuk tidak berada di zona nyaman. Kita tidak mau mengikuti arus karena pasti yang lainnya juga main ke arah itu. Kita harus memikirkan cara lain!” ujar Bayu, saat gala premiere film Foufo di Epicentrum XXI, Jakarta, Jumat (3/7/2026).

Baca Juga: Studio Animasi Surabaya Garap Karakter Alien dari Bangkai UFO yang Ditemukan Pengepul Besi di 'Foufo'

Bersama timnya di Skak Studios, ia melakukan brainstorming terhadap berbagai ide cerita, mulai tentang monster, thriller, hingga tercetus ide tentang alien.

“Pas (muncul ide) alien langsung kayak, ‘Wah, menarik nih alien!’ Aliennya digimanain ya, biar unik? Alien ketemu sama siapa yang unik? Madura. Waduh, dari segi premis aja, sudah langsung ketawa!” seru Bayu.

Pemilihan daerah Madura juga bagian dari komitmen Skak Studios untuk mengangkat budaya lokal. Harapannya keberanian ini bisa jadi sesuatu yang baru di industri perfilman Indonesia.

Dengan mengangkat budaya lokal, Bayu berharap bisa memberikan kesempatan bagi talenta-talenta lokal. Setelah mengikuti casting, pemain tidak hanya jadi ekstra atau cameo tetapi juga menjadi pemain utama.

"Kami selalu ingin kelokalan yang kita miliki itu jangan malah dianggap remeh, dianggap katrok (kampungan, Red), ndeso, dan tidak digunakan! Malah kita mau menggunakan.

"Kalau bisa, setiap tahunnya semakin banyak bahasa daerah yang digunakan. Kami ingin keadaan seperti itu harus dijunjung tinggi, dijadikan karya yang bagus sehingga bisa menarik!” tukasnya.

Baca Juga: Demi Menampilkan Madura yang Otentik di Film 'Foufo', Bayu Skak Gelar Casting Besar-Besaran

Bayu Skak ingin roda usaha industri film tidak terpusat di Jakarta saja. Upayanya mengangkat budaya lokal dan menggunakan talenta lokal ia anggap sebagai semacam desentralisasi agar potensi daerah juga tergali.

“Memang arahnya akan ke sana. Kami akan terus memupuk itu. Namun, yang kita sajikan akan selalu universal. Nilai universal apa yang diperjuangkan untuk dijual di sini!”

Bahkan ia mengaku kalau nantinya film Foufo sukses dan banyak yang ikut mengeluarkan karya yang mengangkat budaya lokal, ia akan ikut bahagia.

“Saya melihat Korea atau Jepang. Mereka menggunakan film sebagai lokomotif. Dari kepala kereta api itu, terangkut juga gerbong-gerbong lainnya. Gerbong yang pertama adalah sumber daya manusianya.

Halaman:

Tags

Terkini