PejuangKantoran.com - Mengunjungi bioskop kini semakin menyenangkan, terutama bagi para penikmat film negeri sendiri. Film-film yang rilis di bulan Juni ini mengangkat tema dan kemasan yang bervariasi, bukan melulu film horor.
Setelah film komedi Detektif Jaga Jarak yang bertema perselingkuhan, kini muncul Star Syndrome yang mengangkat cerita tentang perjalanan Jay, vokalis rock yang mencari identitas barunya di dunia musik. Dunia yang telah memberikannya ketenaran sekaligus kemunduran dalam kariernya.
Film keluaran rumah produksi Mahakarya Pictures ini dibintangi oleh Gilang Dirga, Kezia Aletheia, Tanta Ginting, Tissa Biani, Tora Sudiro, Aryo Wahab, dan Maisha Kanna.
Baca Juga: ONE OK ROCK Gelar Konser di Jakarta, 29 September 2023
Star Syndrome bercerita tentang Jay (Gilang Dirga) yang pernah mengalami puncak ketenaran dalam kariernya, dan belum dapat menerima kenyataan bahwa popularitasnya telah surut.
Pertemuannya dengan Nur (Kezia Aletheia) membuka mata Jay bahwa kecintaannya pada musik bisa dalam bentuk lain, tidak lagi harus di depan panggung.
Upaya Jay merintis identitas atau panggilan barunya di industri musik ini dikemas secara manis dan menghibur oleh sutradara Soleh Solihun.
Daya tarik Star Syndrome datang dari cameo wajah-wajah familiar di industri musik seperti Vincent Rompies, Desta Club 80s, Joe P Project, Thomas Ramdhan GIGI, sampai Indy Barends.
Namun alur cerita dan balutan komedi Star Syndrome, baik dari dialog ataupun situasinya, makin menjadikan film ini menghibur dan inspiratif.
"Yang penting, komentar penonton pada bilang bagus. Kalau musik, gue percaya (diri) pasti bagus dan ternyata (respons penonton) tulus. Biasanya, di film sebelumnya, nggak memuji.
Baca Juga: Joyland Festival Jakarta Rilis Daftar Musisi Lineup Pertama: Ada Interpol, Alvvays, dan Bloc Party
“Terasa perbedaannya waktu premiere film sebelumnya, senyumnya terpaksa. Artinya, saya tidak menyia-nyiakan kepercayaan produser," seru Soleh Solihun, seusai gala premiere Star Syndrome di Epicentrum, Kuningan, Jakarta, 2 Juni 2023.
Bagi produser film, Dendi Renando, rilisnya Star Syndrome merupakan akhir dari proses penggarapan film yang cukup panjang.
"Perjalanan Star Syndrome ini cukup panjang, dari sekitar 3-4 tahun yang lalu. Saya percaya cerita akan menemukan jodohnya dengan cara yang misterius. Tidak terpikirkan untuk (menjadikan) Soleh menjadi sutradaranya.
“Saya sempat approach sutradara lain, Bene, tapi ia merasa passion-nya di musik tidak ada. Diskusi dengan Bene, tercetuslah bagaimana jika Soleh Solhun yang menjadi sutradara.