saving

12 Poin Penting Agar Gen Z First Jobber Tidak Terjebak Gaya Hidup Utang

Senin, 11 Mei 2026 | 10:55 WIB
Gen Z tercata sebagai salah satu kreditu macet pinjol. Terapkan 12 poin pentng berikut ini agar terhindar dari gaya hidup utang! (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)
  1. Gunakan aturan: “kalau tidak mampu beli tunai, anggap belum mampu”

Aturan ini sangat efektif untuk barang konsumtif seperti gadget, fashion, nongkrong, traveling, dan hobi.

Pengecualian rasional apabila digunakan untuk rumah produktif, pendidikan, modal usaha, atau alat kerja yang benar-benar meningkatkan pendapatan, bukan untuk lifestyle signaling.

  1. Hindari normalisasi utang di lingkungan sosial

Banyak first jobber masuk utang karena circle kantor, media sosial, budaya “healing”, fear of missing out (FOMO).

Ada sejumlah kalimat “beracun’ yang kerap jadi “kompor”, misal “Semua orang juga nyicil.”, “Masih muda nikmati hidup dulu.”, “Paylater kan tinggal bayar bulan depan.”

Padahal ketika utang kecil yang berulang bisa menciptakan kebocoran cash flow kronis. Ujung-ujungnya, gaji kamu habis sebelum gajian berikutnya, lalu gali lubang tutup lubang.

Baca Juga: 7 Tanda Tabungan Kamu Pelan-pelan Makin Bertambah dan Kamu Mulai Jadi Orang Kaya

  1. Bangun sistem keuangan otomatis sejak awal kerja

Begitu gaji masuk, langsung bikin pos-pos finansial yang utama, misal:

  • 50–60% kebutuhan hidup,
  • 20% tabungan + dana darurat,
  • 10% investasi,
  • 10–20% hiburan.

Yang penting, kamu menabung lebih dahulu, belanja belakangan, bukan sebaliknya.

  1. Dana darurat lebih penting daripada investasi awal

Saat ini banyak anak muda yang semangat berinvestasi, namun tidak punya dana darurat. Akibatnya, ketika ada masalah, seperti sakit, motor rusak, keluarga butuh uang, ujung-ujungnya langsung pinjol.

Prioritaskan gaji kamu untuk melunasi utang konsumtif, lalu membangun dana darurat, dan setelah itu baru investasi agresif.

Ideal awal darurat adalah minimal 3 bulan biaya hidup.

Baca Juga: 4 Alasan Orang Susah Menabung untuk Dana Darurat, Bukan Melulu karena Pendapatan yang Rendah

  1. Jangan jadikan limit kredit sebagai “uang tambahan”

Kesalahan mental paling umum adalah “Saya punya limit Rp10 juta.” Limit itu bukan aset, itu adalah utang potensial.

Ketika diberi limit besar sering membuat orang terlalu pede, kemudian konsumtif dan kehilangan sense terhadap kemampuan finansial asli.

  1. Hapus aplikasi yang memicu impuls konsumsi

Secara praktis, matikan notifikasi e-commerce, nonaktifkan paylater, hapus aplikasi pinjol, dan unfollow akun flexing ekstrem. Ini karena perilaku finansial modern banyak dipicu stimulus digital.

Halaman:

Tags

Terkini