PejuangKantoran.com - Harga tiket pesawat yang tinggi, khususnya saat musim liburan atau peak season, sering kali menjadi perbincangan hangat. Kenapa sih tiket pesawat bisa semahal itu?
Baru-baru ini, Direktur Utama Garuda Indonesia, Wamildan Tsani Panjaitan, mengungkapkan alasan utama di balik mahalnya harga tiket pesawat, khususnya untuk Garuda Indonesia.
Dua Faktor Utama Penyebab Mahalannya Harga Tiket
Menurut Wamildan, ada dua faktor utama yang berperan besar dalam menentukan harga tiket pesawat. Yang pertama adalah biaya avtur (bahan bakar pesawat), yang menurutnya berkontribusi hingga 35% dari total harga tiket.
Baca Juga: 1.000 UMKM dengan Kualitas Internasional akan Hadir di BRI UMKM EXPO(RT) 2025
Biaya avtur ini memang menjadi komponen yang sangat signifikan, karena harga bahan bakar pesawat yang fluktuatif sangat mempengaruhi biaya operasional maskapai.
Selain itu, harga sewa pesawat juga tidak kalah penting. Wamildan menjelaskan bahwa sewa pesawat selama sebulan bisa mencapai 300 ribu dollar AS per unit, dan ini juga mempengaruhi harga tiket. Totalnya, biaya sewa pesawat ini menyumbang sekitar 30% dari harga tiket pesawat.
Biaya Layanan Bandara yang Tak Kalah Besar
Selain avtur dan biaya sewa pesawat, Wamildan juga menyoroti biaya layanan di bandara yang tidak sedikit. Ini mencakup biaya take off dan landing fee, sewa ruangan di bandara, bahkan biaya parkir pesawat yang semuanya harus ditanggung oleh maskapai. Apalagi, sebagian besar biaya ini juga dikenakan pajak, yang makin menambah beban maskapai.
Tak hanya itu, ada juga bea masuk suku cadang yang dikenakan pajak ketika barang tersebut masuk ke Indonesia, yang semakin menambah biaya operasional maskapai.
Salah satu faktor yang membuat harga tiket Garuda Indonesia relatif lebih mahal adalah karena maskapai ini mengusung konsep full service. Wamildan mengungkapkan bahwa sebagai maskapai full service, Garuda Indonesia harus menyediakan berbagai layanan tambahan untuk penumpang, seperti makanan ringan hingga makanan berat. Ini tentu saja menambah biaya operasional yang harus ditanggung maskapai.
Sebagai perbandingan, Wamildan menyebutkan maskapai low cost carrier (LCC) seperti Citilink yang memiliki margin lebih besar karena mengurangi banyak layanan.
“Revenue to cost Garuda sangat tipis, mencapai 94%, sementara Citilink bisa sampai 84%,” jelas Wamildan. Artinya, meskipun Garuda berusaha menjaga kualitas layanan, margin yang didapat lebih kecil dibandingkan maskapai dengan model LCC.
Artikel Terkait
Film 1 Kakak 7 Ponakan Angkat Tema Sandwich Generation Dari Sudut Pandang Empati
Siap-siap, Tumbler Stanley Bakal Launching Warna Baru
Peruntungan Pekerjaan 12 Shio di Tahun Ular Kayu, Gimana Nasib Kamu?
4 Film dari Rumah Produksi Prilly Latuconsina yang Bakal Tayang 2025, Pemainnya Nggak Kaleng-kaleng!
3 HP Flagship Baru 2025 dengan Kamera Canggih, Harga Mulai Rp17 Jutaan
Ini Alasan Sutradara Robert Ronny Angkat Kisah tentang Pejuang IVF Meutya Hafid ke Layar Lebar
Tak Sekadar Hobi Biasa, Ini 3 Jenis Hobi yang Menurut Psikolog Baik untuk Perkembangan Diri
Apa yang Bikin Baim Wong Menganggap Film Sukma sebagai Proyek Ambisiusnya sebagai Sutradara?
Jam Tangan Tak Sekadar Penunjuk Waktu. Apa Perbedaan Jam Tangan Otomatis dengan Quartz?
Siap-siap Garuda Indonesia Sales Online Travel Fair 2025 Bakal Siapkan Tiket Murah ke Banyak Destinasi Liburan