Pernikahan Arwah, Film Horor Pertama yang Mengangkat Tradisi Tionghoa Kuno yang Nyaris Hilang

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Sabtu, 22 Februari 2025 | 09:00 WIB
Morgan Oey dan Zulfa Maharani tampil dalam film horor Pernikahan Arwah mengangkat budaya Tionghoa. (Entelekey Media Indonesia )
Morgan Oey dan Zulfa Maharani tampil dalam film horor Pernikahan Arwah mengangkat budaya Tionghoa. (Entelekey Media Indonesia )

PejuangKantoran.com - Film horor masih terus diproduksi karena masih sangat digemari. Itu sebabnya rumah produksi berupaya mengembangkan cerita sekreatif mungkin.

Contohnya Pernikahan Arwah (The Butterfly House), yang mengangkat kisah tentang tradisi Tionghoa kuno dan diyakini sudah berlangsung selama ribuan tahun.

Prosesi pernikahan roh, atau Minghun, begitu biasa disebut dalam budaya Tionghoa, dilakukan untuk memberikan pasangan bagi orang yang meninggal dalam keadaan lajang, atau memenuhi kebutuhan leluhur atau kerabat yang meninggal.

Baca Juga: Lowongan Kerja Social Media Supervisor di Scarlett Indonesia

Pemilihan tema ini bertujuan untuk memperkenalkan budaya Tionghoa yang jarang diangkat ke film.

“Kenapa saya tertarik menggarap film ini, karena ada representasi yang mewakili satu masyarakat. Saya merasa di media seni Indonesia dari dulu representasi kaum etnis itu sangat minim sekali.

"Saya mencoba mengangkatnya di sini dengan cerita yang sangat menarik, yang menghadirkan budaya ini di dua periode: tahun 1943 dan zaman sekarang,” terang sutradara Paul Agusta, saat gala premiere film di Epicentrum XXl, Kuningan, Jakarta, Kamis (20/2/2025) lalu.

Pernikahan Arwah menceritakan pasangan Salim (Morgan Oey) dan Tasya (Zulfa Maharani) yang sedang mempersiapkan foto prewedding mereka. Rencananya, pemotretan akan dilakukan di Hong Kong, namun berubah ke Lasem, Jawa Tengah.

Perubahan itu dilakukan karena Salim harus mengurus pemakaman bibinya, sekaligus meneruskan ritual yang dilakukan bibinya, yaitu membakar dupa setiap hari di altar rumah sang bibi. 

Saat berada di rumah bibi Salim, Tasya mulai mengalami mimpi dan kejadian aneh. Ia harus bisa menenangkan arwah sekaligus membebaskan Salim dari kewajiban membakar dupa.

Untuk itu Tasya bersama Salim dan tim foto prewedding harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada leluhur Salim. Mereka berusaha menguak misteri masa lalu keluarga Salim.

Morgan Oey punya cerita unik seputar pembuatan film ini. Walaupun dirinya juga keturunan Tionghoa seperti tokoh Salim, Morgan mengaku sebenarnya tidak begitu paham tentang pernikahan arwah yang sudah nyaris hilang di zaman sekarang.

Baca Juga: Mantan CEO Kecilin Dinyatakan Hilang usai Tinggalkan Surat Permohonan Maaf untuk Keluarga

"Jadi, saya perlu riset budaya. Saya tanya ke orang tua saya. Apakah mereka pernah dengar. Waktu saya kecil, saya pernah mendengar tentang hal itu tapi tidak tahu menahu ritualnya seperti apa. Ya, namanya anak kecil ya, pasti takut tentang hal-hal yang berhubungan dengan arwah.

"Akhirnya, saya lebih banyak ngobrol dengan sutradara untuk menangkap esensi pernikahan arwah ini buat karakter Salim dan juga Tasya, yang jadi pasangannya,” seru aktor bernama lengkap Handi Morgan Winata ini.

Berbeda lagi dengan Zulfa Maharani. Setelah terlibat di film Pernikahan Arwah ini, ia malah menjadi lebih mengerti mengapa tradisi-tradisi seperti ini dilakukan pada zaman dulu. Ada esensi yang sebenarnya berlaku universal

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X