PejuangKantoran.com - Sudah sejak lama produser Celerina Judisari berhasrat untuk membuat film Indonesia dengan genre perang. Sebelumnya, ia pernah terlibat dalam produksi film perjuangan berjudul Soekarno (2013) bersama Hanung Bramantyo.
Kemudian, tahun 2021 ia merilis film berjudul Kadet 1947 yang niatnya ditayangkan di seluruh bioskop. Namun, pandemi Covid-19 menyebabkan penayangan film tersebut hanya melalui platform OTT (over-the-top) atau streaming.
Akhirnya ketika menemukan buku karya Agus Subiyanto yang berjudul Believe: Takdir, Mimpi, Keberanian, ia merasa ini waktunya untuk menggarap film genre perang secara serius.
Baca Juga: Kerja Remote Dibayar Dollar: Lowongan Kerja AI Editor – Bahasa Indonesia di Gini Talent
“Kalau ditanya kenapa membuat film perang, ya kenapa tidak? Sebelumnya, kita membuat Kadet tetapi kita terkendala di Covid. Tapi, saya tidak putus asa.
"Harus ada orang yang sedikit idealis untuk berbicara tentang sejarah dan pesan-pesan moral seperti tentang kesetiaan dan loyalitas. Bagaimana istri menunggu suami, suami pun harus pulang karena ia punya motivasi untuk bertemu keluarga.
"Rasanya itu jarang sekali dihadirkan di film-film,” terang produser yang akrab dipanggil Mbak Ayie ini, saat pemutaran perdana Believe: Takdir, Mimpi, Keberanian di Plaza Senayan XXI, Jumat (18/07/2025).
Menghadirkan film perang secara otentik tentu butuh biaya yang sangat besar. Meski tidak mengetahui secara detail angka biaya produksi, sutradara Rahabi Mandra menyebutkan kemungkinan biaya produksi film ini mencapai tiga kali dari produksi film horor.
“Aku jujur tidak tahu angkanya karena tidak di-disclose. Cuma kalau dikira-kira, dari jumlah hari syuting yang 38 hari, sementara film biasanya 20 hari, plus kita ada ledakan dan action, mungkin (angkanya) bisa dua atau tiga kalinya (biaya produksi) film horor ya,” ujar Rahabi.
Selain dari hari syuting, angka produksi yang besar ini juga bisa dilihat dari kebutuhan logistik per adegan di film. Untuk menampilkan adegan-adegan perang yang meyakinkan, Rahabi menyebutkan ada lebih dari 300 pemain ekstra yang dihadirkan untuk mendukung film.
Baca Juga: 10 Negara dengan IQ Tertinggi di Dunia, Asia Timur Paling Unggul
Sebagian pemain ekstra ini langsung tentara TNI yang memang menjadi pihak pendamping film. Selain itu, ada lebih 8 kali ledakan yang menghabiskan ratusan kilogram mortar dilakukan selama syuting.
“Saya sebenarnya tipe orang yang nggak suka lama-lama sebetulnya. Abi (Panggilan Rahabi) sudah tahu kalau saya masuk, pasti ada sesuatu yang aneh. Tapi challenge saya selalu diambil oleh Abi, partner in crime.
"Ini seperti lahiran, 10 bulan (mengerjakan) dengan skala (produksi) yang seperti ini. Kita bisa menyelesaikan dengan CG dan lain-lain juga.
"Bahkan, dengan pre-production yang hanya 45 hari. Semua saya push untuk bisa beyond the limit!” seru Mbak Ayie.
Artikel Terkait
Benarkah Segelas Air Lemon Bisa Menyehatkan Tubuh?
Manfaat Minum Teh Setiap Hari, Tak Hanya Menenangkan tapi Baik untuk Kesehatan
6 Kebiasaan Kecil yang Diam-Diam Bisa Memperpendek Usia
Di Balik Kebebasan WFH Ternyata Ada Tantangan Besar. Ini yang Bikin Pekerja WFH Merasa Tertekan!
Ketika Atasan Melakukan "Quiet Quitting", Apa Dampaknya untuk Kamu sebagai Anak Buahnya?
Apa Iya Hidup Hanya Tentang Kerja? Mungkin Ini Saatnya Cek Keseimbangan Hidup Kamu!
7 Keterampilan Yang Harus Kamu Asah Terus Untuk Tingkatkan Kemampuan Negosiasi