PejuangKantoran.com - Mengadaptasi webtoon dan web novel yang pernah diangkat jadi drakor populer seperti What’s Wrong with Secretary Kim bukan hal yang mudah.
Itu sebabnya saat dipercaya untuk memerankan tokoh Rendra dalam film What’s Up With Secretary Kim (dengan judul yang sedikit diubah), Adipati Dolken tak memungkiri jika ia sempat merasa terbebani.
“Yang pasti, iyalah (tidak mudah)! Karena semua orang akan membanding-bandingkan. Apalagi, cerita ini sudah banyak diadaptasi. Pertama, Korea. Thailand, Phillipines dan yang ini, keempat.
Baca Juga: Google Membuka Posisi Associate Product Marketing Manager untuk Divisi Android di Jakarta
“Semua di luar sana sukses. Kita juga berharap What’s Up With Secretary Kim berada di atas dari segi kualitas dan rasa-rasanya!” ujar Adipati Dolken, saat gala premiere film di Plaza Indonesia XXI, Jakarta, Selasa (04/11/2025).
Dalam mendalami karakter sebagai Rendra, bos yang sangat demanding terhadap sekretarisnya yang bernama Kimberly (Mawar de Jongh), aktor blasteran Jerman dan Jawa ini sengaja menonton ulang drakor yang diperankan oleh Park Seo Jun itu.
“Saya nonton dua kali bahkan. Nonton pas lagi rame-ramenya. Pertama waktu sebelum Covid, kalau nggak salah. Nonton lagi pas mau syuting ini. Sempat lihat webtoon-nya tapi nggak baca karena bahasa Korea, ya. Jadi, nggak ngerti!” ujarnya.
Jika adaptasi webtoon di tiga negara sebelumnya diedarkan dalam bentuk series, versi Indonesia hadir dalam film dengan perubahan judul.
Karena perubahan format ceritanya pula, Adipati bersama sutradara Rako Prijanto harus memutar otak memilih adegan-adegan ikonik di series yang wajib dimasukkan ke dalam film.
“Kita godok bareng mas Rako. Karena ini jadinya film, kita bingung nih! Dari series 16 episode, mana yang kita mau ambil. Jadi kita lumayan mikirin sih, bagian ikonik mana saja yang mau diambil.
Baca Juga: Ini Dia, Kategori Pemohon Paspor yang Bisa Bikin Paspor tanpa Perlu Antre Online di M-Paspor
“Salah satunya adegan di sofa, karena itu lumayan penting. Intinya, kita ambil semaksimal mungkin adegan-adegan ikonik di series ke film ini. Seperti IP-IP yang sudah ada, kita buat sebaik mungkin juga,” jelas Adipati, yang sempat menaikkan berat badan demi perannya sebagai Rendra.
Namun, ia menegaskan bahwa beberapa detail ceritanya sudah mengalami penyesuaian dengan sentuhan lokal dan hal-hal yang lebih dekat dengan keseharian penonton Indonesia.
Saat melakukan riset karakter, observasi ia lakukan lewat lingkungan di sekitarnya. Salah satunya, mengobservasi bagaimana karyawan dan atasan berinteraksi di kantor PH yang memproduksi film ini, Falcon Pictures.
“Belajar, jadi referensi saja. Cuma (referensi) nggak akan plek ketiplek kita pakai karena, ya buat apa? Kita malah harus lebih menyesuaikan dengan culture-nya kita.
Artikel Terkait
5 Cara Praktis Menjaga Produktivitas Tinggi yang Konsisten di Tempat Kerja Tanpa Harus Lembur
Dari Rp1.000 Jadi Rp1, Begini Rencana Menkeu Purbaya Sederhanakan Nilai Rupiah. Semua Pihak Sudah Siap?
Yura Yunita Ciptakan Lagu 'Mau Jadi Apa' sebagai Representasi Gen-Z yang sedang Mengeksplor Diri
Panduan Menentukan Perusahaan Incaran dengan Melihat EVP atau "Janji Surga" Perusahaan Tersebut
Maskapai Penerbangan Timur Tengah Kekurangan Pilot: Ancaman atau Peluang untuk Wisatawan Global?
Jerome Polin Buka Lowongan Editor-Designer dan Guru Matematika, tapi Mengapa Banyak yang Protes?
Jumlah Lowongan Kerja di AS Turun di Titik Terendah Sejak 2021, Saatnya Kamu Bergerak Lebih Smart!