PejuangKantoran.com - Untuk kali pertama, Festival Teater Indonesia (FTI) akan digelar. Sebanyak 20 kelompok teater maupun seniman individu dari seluruh penjuru Indonesia terpilih untuk tampil di atas panggung FTI mulai 1-16 Desember 2025.
Festival ini sendiri akan digelar di empat kota, yaitu Medan, Palu, Mataram, dan Jakarta. Jadi, di setiap kota pengunjung bisa menyaksikan 5 pertunjukan teater.
Penggagas festival ini adalah Yayasan Titimangsa yang berkolaborasi dengan Penastri (Perkumpulan Nasional Teater Indonesia), serta didukung oleh Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan RI.
Baca Juga: RockStar Gym Membuka Lowongan Kerja: Software Engineer, Gaji Rp 10.000.000 – Rp 14.000.000 per Bulan
Di FTI yang pertama ini, kelompok teater yang terpilih akan menghadirkan cerita-cerita dari karya sastra Indonesia sebagai bagian untuk lebih memperkenalkan sastra di masyarakat luas.
“Teater dan sastra kadang-kadang jauh dari perhatian banyak orang. Dari awal Titimangsa, 88 pertunjukannya diangkat dari karya sastra dan saya pribadi menyukai teater karena karya sastra bisa sangat lentur diekspresikan dalam format teater.
"Saya percaya teater itu ruang yang paling fleksibel dalam menyampaikan gagasan, pikiran dan sebagainya. Dan, setelah 80 tahun merdeka, akhirnya ada Festival Teater Indonesia!” terang Happy Salma, pendiri Titimangsa, saat konferensi pers Festival Teater Indonesia di Gedung A Departemen Kebudayaan, Jakarta, Rabu (26/11/2025).
Keterlibatan Kementerian Kebudayaan pada FTI ini sejak awal karena memang festival ini dibuat selaras dengan salah satu poin di agenda besar Kemenbud, yaitu penguatan ekosistem sastra dan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya.
“Salah satu tugas utama fungsi kami di direktorat pengembangan, pemanfaatan dan pembinaan kebudayaan adalah penguatan ekosistem di lima bidang. Salah satunya adalah sastra.
"Selain itu juga, fungsi kami adalah membuat satu open space, juga menyangkut alih wahana, serta MTN dan peningkatan capacity. Berkaitan dengan penguatan ekosistem, kegiatan penguatan di bidang sastra sangat pasif.
Baca Juga: Google Skills Jadi Cara Baru Belajar AI dan Skill Digital, Langsung dari Sumber Resmi Google!
"Jadi, salah satu kegiatannya adalah festival ini, termasuk yang sudah jalan lebih dulu adalah pembangunan komunitas penggiat sastra.
"Melalui diskusi-diskusi (sastra), kita berhasil mendistribusikan sekitar 3500 buku,” tambah Ahmad Mahendra, Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan.
Pada perhelatan yang pertama ini, FTI mengangkat tema Sirkulasi Ilusi yang menyoroti pertemuan antara realitas dan representasi di tengah kehidupan kontemporer.
Sirkulasi merujuk pada bagaimana ide, wacana dan karya seni diterjemahkan dalam lintas ruang, waktu, medium dan komunitas. Sedangkan ilusi di sini ditambahkan sebagai strategi konseptual dalam menerjemah karya-karya sastra yang dipilih.
Artikel Terkait
4 Istilah Warna yang Populer Berkat Kejadian Viral di Indonesia, dari Biru Tantrum sampai Hijau Miskin
Jonathan Goldstein dan John Francis Daley Siapkan Film 'Star Trek' Baru, Cerita Fresh dengan Pemain Baru
5 Tips Praktis Agar Tetap Terhidrasi Saat Naik Pesawat, Kamu Jadi Tidak Kehausan saat Mendarat
Disney Plus Bakal Punya Fitur Bikin Video dengan AI, Kreator “The Owl House” Protes Keras
Tak Semua Makanan Boleh Disimpan di Wadah Plastik, Apalagi 5 Makanan Ini
Gunakan 70% Rule dari Founder Amazon untuk Membuat Keputusan yang Cepat dan Tepat di Era Teknologi Ini
Tren Karier Minimalis yang Dipelopori oleh Gen Z Akan Merombak Budaya Kerja Modern