PejuangKantoran.com - Hingga 7 Juli 2026, film Sekawan Limo 2: Gunung Klawih garapan Bayu Skak sudah mengumpulkan 2.102.304 penonton. Angka ini akan terus bertambah karena film masih diputar di bioskop-bioskop. Pencapaian tersebut termasuk fantastis mengingat semakin sulitnya film-film Indonesia menembus 1 juta penonton.
Meski begitu, kesuksesan Sekawan Limo tidak membuat Bayu Skak mengandalkan komedi horor sebagai pakem untuk membuat film berikutnya. Sebagai seniman, ia merasa perlu untuk keluar dari zona nyaman dan mencoba sesuatu yang baru.
“Berawal dari keberhasilan film saya kemarin yang horor komedi, ini adalah proses untuk tidak berada di zona nyaman. Kita tidak mau mengikuti arus karena pasti yang lainnya juga main ke arah itu. Kita harus memikirkan cara lain!” ujar Bayu, saat gala premiere film Foufo di Epicentrum XXI, Jakarta, Jumat (3/7/2026).
Bersama timnya di Skak Studios, ia melakukan brainstorming terhadap berbagai ide cerita, mulai tentang monster, thriller, hingga tercetus ide tentang alien.
“Pas (muncul ide) alien langsung kayak, ‘Wah, menarik nih alien!’ Aliennya digimanain ya, biar unik? Alien ketemu sama siapa yang unik? Madura. Waduh, dari segi premis aja, sudah langsung ketawa!” seru Bayu.
Pemilihan daerah Madura juga bagian dari komitmen Skak Studios untuk mengangkat budaya lokal. Harapannya keberanian ini bisa jadi sesuatu yang baru di industri perfilman Indonesia.
Dengan mengangkat budaya lokal, Bayu berharap bisa memberikan kesempatan bagi talenta-talenta lokal. Setelah mengikuti casting, pemain tidak hanya jadi ekstra atau cameo tetapi juga menjadi pemain utama.
"Kami selalu ingin kelokalan yang kita miliki itu jangan malah dianggap remeh, dianggap katrok (kampungan, Red), ndeso, dan tidak digunakan! Malah kita mau menggunakan.
"Kalau bisa, setiap tahunnya semakin banyak bahasa daerah yang digunakan. Kami ingin keadaan seperti itu harus dijunjung tinggi, dijadikan karya yang bagus sehingga bisa menarik!” tukasnya.
Baca Juga: Demi Menampilkan Madura yang Otentik di Film 'Foufo', Bayu Skak Gelar Casting Besar-Besaran
Bayu Skak ingin roda usaha industri film tidak terpusat di Jakarta saja. Upayanya mengangkat budaya lokal dan menggunakan talenta lokal ia anggap sebagai semacam desentralisasi agar potensi daerah juga tergali.
“Memang arahnya akan ke sana. Kami akan terus memupuk itu. Namun, yang kita sajikan akan selalu universal. Nilai universal apa yang diperjuangkan untuk dijual di sini!”
Bahkan ia mengaku kalau nantinya film Foufo sukses dan banyak yang ikut mengeluarkan karya yang mengangkat budaya lokal, ia akan ikut bahagia.
“Saya melihat Korea atau Jepang. Mereka menggunakan film sebagai lokomotif. Dari kepala kereta api itu, terangkut juga gerbong-gerbong lainnya. Gerbong yang pertama adalah sumber daya manusianya.
Artikel Terkait
Joko Anwar Gelar Open Casting untuk Film Terbarunya, Gaaas... buat yang Minus Pengalaman Akting
Psychological Safety ala Google yang Sangat Bermanfaat Bagi Organisasi Perusahaan
Rivalitas Abadi Ronaldo dan Messi Sudah Usai. Kini Siapkan Panggung Untuk Erling Haaland dan Kylian Mbappé
10 Pendekatan yang Efektif Agar Growth Mindset Bisa Menjadi Budaya Kerja Karyawan
Ini Dia Sepatu Olahraga Termahal di Dunia, dan Kamu Bisa Kok Memilikinya (Selama Ada Uangnya!)
Ini Alasan Ilmiah Mengapa Pemain Sepak Bola Modern Suka Menggunting Bagian Betis Kaos Kaki Mereka
Series 'Manis Di Bibir' Jadi Ajang Reuni bagi Oka Antara dan Adinia Wirasti