Drama Adu Pinalti: Apakah Tim yang Melakukan Tendangan Pertama Akan Selalu Memenangkan Pertandingan? Kini Sains Bisa Menjelaskan Tentang Adu Pinalti

photo author
Adhityaswara Nuswandana, Pejuang Kantoran
- Senin, 6 Juli 2026 | 18:10 WIB
Pemain Mesir merayakan keberhasilan mengalahkan Australia melalui adu pinalti di babak 16 besar. Adu pinalti kini bisa didalami melalui sains nggak hanya faktor keberuntungan belaka.  (FIFA.com)
Pemain Mesir merayakan keberhasilan mengalahkan Australia melalui adu pinalti di babak 16 besar. Adu pinalti kini bisa didalami melalui sains nggak hanya faktor keberuntungan belaka. (FIFA.com)

PejuangKantoran.com – Piala Dunia FIFA 2026 memberikan beberapa drama adu pinalti yang harus dilakoni beberapa negara untuk menentukan pemenang. Belanda vs Maroko yang dimenangkan Maroko, Jerman vs Paraguay yang dimenangkan Paraguay, dan Mesir vs Australia yang dimenangka oleh Mesir.

Baca Juga: Piala Dunia FIFA 2026, Ajang Unjuk Diri si Sepatu Pink. Kira-Kira Siapa Pemain yang Tidak Menggunakan Sepatu Warna Pink?

Baca Juga: Piala Dunia FIFA 2026, Ajang Global Pemain Sepakbola dari Segala Sudut Dunia

Tekanan psikologis berdasarkan situasi tendangan—bukan urutan siapa yang menendang duluan—merupakan penentu utama kemenangan sebuah tim dalam drama adu penalti. Berdasarkan ulasan  dari Wired.com, mitos kuno mengenai keuntungan penendang pertama kini terpatahkan oleh analisis data modern.

Berikut adalah ulasan mendalam mengenai sains di balik adu penalti berdasarkan studi terbaru:

Runtuhnya Mitos "Penendang Pertama Pasti Menang"

  • Mitos Lama 60-40. Studi ikonik tahun 2010 dalam American Economic Review sempat menjadi patokan bahwa tim yang menendang pertama menang hampir 60% kali.
  • Bantahan Data Besar: Analisis terbaru terhadap 7.000 adu penalti dan 74.000 tendangan menunjukkan tidak ada bukti kuat penendang pertama lebih diuntungkan. Jika ada selisih, angkanya di bawah 1,8 persen.

Jenis Tekanan: Penentu Keberhasilan Eksekusi

Riset terbaru dari jurnal Football Studies menemukan bahwa jenis situasi psikologis di lapangan jauh lebih krusial dibandingkan urutan menendang. Tekanan tersebut terbagi menjadi dua kondisi ekstrem:

  • Tendangan Penentu Kemenangan (Match-Winning Kicks). Ketika seorang pemain maju untuk mengeksekusi penalti yang jika gol langsung menyegel kemenangan tim. Tingkat keberhasilan dalam situasi ini mencapai 89,1%.
  • Tendangan Penghindar Eliminasi (Elimination Kicks). Ketika seorang pemain harus mencetak gol demi menyamakan kedudukan, di mana jika meleset, tim mereka langsung tersingkir. Dalam kondisi penuh beban ini, tingkat keberhasilan anjlok menjadi hanya 60,4%.

Aturan sepak bola saat ini secara tidak sengaja lebih sering membebankan situasi "penghindar eliminasi" pada tim yang menendang kedua. Hal inilah yang sempat memicu bias bahwa penendang kedua lebih sering kalah.

Implikasi Strategis bagi Pelatih

Data ini mengubah cara manajer tim dalam menyusun urutan pemain.

  • Pemain dengan ketahanan mental tertinggi sebaiknya tidak dipasang di awal.
  • Mereka harus disimpan untuk eksekusi krusial di akhir babak (tendangan ke-4 atau ke-5) guna menghadapi momen eliminasi atau penentu kemenangan.

Baca Juga: Rekor Gol Piala Dunia FIFA 2026. Messi Memang GOAT Sejati!

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Adhityaswara Nuswandana

Sumber: wired.com

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X