Tradisi Sungkeman Lebaran dalam Adat Jawa, Bagaimana Posisi Sungkeman dan Contoh Kalimatnya?

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Jumat, 21 April 2023 | 23:03 WIB
Ilustrasi: Bagaimana cara sungkeman kepada orangtua saat  Idul fitri? ( Freepik)
Ilustrasi: Bagaimana cara sungkeman kepada orangtua saat Idul fitri? ( Freepik)

Cara sungkeman Lebaran

Sepintas gerakan sungkeman terlihat sederhana, hanya berjongkok sambil mencium tangan orangtua. Namun sungkeman ternyata memiliki aturannya sendiri:

• Orangtua duduk di kursi atau tempat yang lebih tinggi, untuk menggambarkan bahwa orangtua wajib diperlakukan secara hormat oleh anak-anaknya.

• Katupkan kedua tangan di dada dengan kepala menunduk, dan posisi jongkok di depan orangtua. Sikap tubuh inilah yang disebut merendah dan dengan tulus meminta maaf kepada orang yang telah berjasa dalam hidupnya.

• Cium tangan orangtua sambil mengucapkan kalimat maaf (posisi bersimpuh sambil mencium tangan merupakan ekspresi memuliakan orang yang lebih tua).

• Kalimat maaf sebagai permohonan maaf bisa disampaikan jika telah membuat kesalahan, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja.

Kalimat sungkeman Bahasa Jawa

Kamu bisa meminta maaf dengan ucapan Bahasa Jawa sederhana seperti:

• “Pak, Bu, ngaturaken sugeng riyadi. Sedoyo lepat kulo nyuwun pangapunten”.

Artinya, “Pak, Bu, saya mengucapkan selamat hari raya. Saya minta maaf atas semua kesalahan saya.”

• Contoh kata sungkeman Bahasa Jawa lainnya: “Kagem bapak kulo nyuwun agunging pangapunten sedanten kalepatan lahir dumugining batin mboten langkung ngaturaken sugeng riyadi, mugi Gusti Allah ingkang kuoso paring ridho lan rahmatipun dumateng kita sedaya”.

Artinya, “Bapak, Ibu, saya minta maaf lahir dan batin, serta mengucapkan selamat Idul Fitri. Semoga Allah yang maha kuasa memberi ridha dan rahmat untuk kita semua”.

Baca Juga: 16 Ucapan Selamat Idul Fitri untuk Keluarga dan Teman

• Jika kamu sudah beberapa tahun tidak pulang karena terlalu sibuk dengan pekerjaan, kamu bisa mengatakan, “Bapak, ibu, nuwun sewu amargi sakmenika kula mboten wonten ing ngomah kangge riyaya lebaran kaliyan keluarga. Nuwun sewu ndadosaken karya kula rumiyin”.

Artinya, “Bapak, Ibu, saya minta maaf karena selama ini saya jarang pulang untuk merayakan Lebaran bersama keluarga. Minta maaf karena saya mengutamakan pekerjaan saya lebih dulu.”

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: IAIN Kediri, DW.com, Jurnal Kajian Islam Al Kamal

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X