3 Cerita Seru Di Balik Pembuatan Onde Mande! yang Bikin Film Ini Terkesan "Minang Banget"

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Senin, 19 Juni 2023 | 15:25 WIB
Film Onde Mande! mengangkat kehidupan masyarakat Minang, terutama kehidupan desa nelayan Sigiran di dekat Danau Maninjau.  (Instagram @ondemandefilm)
Film Onde Mande! mengangkat kehidupan masyarakat Minang, terutama kehidupan desa nelayan Sigiran di dekat Danau Maninjau. (Instagram @ondemandefilm)

Ajil mengatakan bahwa di film yang akan tayang 22 Juni 2023 ini ia akan memerankan AGS alias Anak Gaul Sigiran. Menurutnya, anak-anak muda di kawasan ini memiliki pola pikir yang tidak terlalu berbeda dengan kita. 

Baca Juga: Ajil Ditto Lebih Cepat Belajar Bahasa Padang Lewat Skenario Onde Mande Ketimbang Diajari Keluarga

Yang membedakan adalah cara mereka berkomunikasi. Kita yang di Jakarta, terbiasa gue elo. Sementara mereka berbicara dengan bahasa Padang dengan fasihnya.

"Melihat mereka ngomong seperti itu, apalagi kita perannya jadi orang Padang, ada rasa 'Duh, coba ya gue bisa ngomong selancar mereka!'" seru pemeran Hadi ini.

Selain itu, Ajil memperhatikan bagaimana anak-anak di Sigiran tidak masalah meskipun di kawasan tempat tinggal mereka tidak ada mall. Kalau mau ke mall, harus ke kota Padang Panjang dulu. 

"Tapi mereka dengan resource apa pun yang mereka punya di Sigiran, Maninjau, mereka tetap menggunakan itu dan bisa tetap happy. Senang-senang aja. Tidak ada keraguan.

"Nggak kayak kita, dikit-dikit bete, nge-mall aja deh, ngopi aja deh. Sementara mereka bisa menyesuaikan diri, kumpul-kumpul, minum teh talua, duduk-duduk di pinggir danau, menikmati pemandangan danau Maninjau," ujarnya lagi.

3. Orang Padang pintar mencari solusi

Tujuan dari sutradara Paul Fauzan Agusta membuat film Onde Mande! ini adalah untuk mengangkat kehidupan masyarakat Minang yang erat kekeluargaan, kekerabatan, dan ikatan batin terhadap tanah lahirnya.

Itu sebabnya, selain menampilkan keindahan Danau Maninjau, secara komposisi visual timnya sebisa mungkin mengangkat ritual-ritual harian penduduk Sigiran. Ia ingin memberi gambaran seperti apa rasanya tinggal di situ.

"Aku ingin penonton sampai bisa merasakan anginnya, mendengar desiran air di danaunya, sampai merasakan teh taluanya Da Am. Saya ingin sekali menangkap budaya setempat sehingga tercirikan budaya orang Minang seperti apa," terang Paul dalam  kesempatan yang sama.

Baca Juga: Mayoritas Gunakan Bahasa Minang, Film Onde Mande Jadi Alternatif Di Tengah Serbuan Film Horor

Berasal dari keluarga Padang, Paul ingin sekali memperkenalkan karakter orang Padang yang selama ini sering ia observasi di dalam keluarga besarnya.

"Aku ingin membuat film yang mencerminkan sesuatu yang Minang banget lah! Salah satu yang aku perhatikan dari keluarga besar aku, dari kakak atau tante aku, ada kecenderungan orang Padang sangat pintar mencari solusi kalau ada masalah."

Jadi, dari situlah cerita film dimulai. Bagaimana satu desa menghadapi satu masalah, satu desa pula yang mencari jalan keluarnya. (Syanne Susita)

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X