senggang

Filmmaker Indonesia Ungkap Pentingnya Berpartisipasi dalam Festival Film International

Senin, 9 Oktober 2023 | 18:52 WIB
Film 24 Jam Bersama Gaspar ditayangkan di Busan International Film Festival pada Jumat, 6 Oktober 2023 lalu. (Dok. Visinema)

PejuangKantoran.com - Sebanyak 17 film Indonesia ditayangkan dalam Busan International Film Festival yang berlangsung di Busan, Korea Selatan, 4-13 Oktober 2023.

Busan International Film Festival merupakan festival film terbesar di Asia yang dianggap secara strategis bisa memperkenalkan film Indonesia secara lebih luas lagi ke dunia internasional.

Berkat dukungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, keikutsertaan pelaku industri film di Busan International Film Festival menjadi semakin banyak.

Baca Juga: 17 Film Indonesia Bakal Tayang di Busan International Film Festival, Ini Peran Kemendikbudristek 

Pada tahun-tahun sebelumnya, partisipasi filmmaker sebenarnya sudah ada. Bahkan, ada yang sudah sejak 10 atau 15 tahun yang lalu seperti yang dilakukan oleh sutradara Mouly Surya, Ifa Ifansyah, Edwin, atau produser Yulia Evina Bhara.

“Saya pertama ikut Festival Film Internasional Busan tahun 2008. Sejauh ini, ini akan menjadi BIFF ke-10 buat saya. Busan jadi festival favorit karena di sini tempat filmmaker datang dan dicari.

“Ada banyak festival film internasional lagi yang lebih bergengsi dan besar di dunia seperti Cannes. Cuma kalau mau ketemu orang, networking, di Cannes, orang-orangnya sibuk.

“Kalau di Busan, orang-orang memang mencari kita, mencari bibit-bibit dan talenta baru,” ungkap Mouly Surya, saat konferensi pers "Kemendikbudristek Fasilitasi Delegasi Indonesia” di kantor Kemendikbud, Senayan, Jakarta, Senin (2/10/2023).

Bagi Mouly Surya, kehadirannya di festival film internasional punya banyak keuntungan. Itu sebabnya ia merasakan perlunya menghadiri festival film seperti itu.

Baca Juga: Festival Film Internasional Busan Tayangkan Perdana Gadis Kretek dan 11 Film Indonesia Lainnya

“Sebagai sutradara, ini penting karena membuka wawasan saya, seperti cara bercerita saya, dengan cara pandang mereka -audience lokal- terhadap film saya sangat berbeda.

“Selain itu, saya berkesempatan bertemu dengan peers saya, filmmaker dari negara lain seperti Filipina misalnya. Melihat film mereka, dan dari situ, kita bisa berkaca. Hal seperti itu menurut saya penting,” tambah sutradara yang filmnya, Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (2017), meraih penghargaan di berbagai ajang perfilman ini.

Dari sisi produser, keuntungan mengikuti festival film Internasional ternyata agak berbeda. Sama seperti Mouly, partisipasi Yulia Evina Bhara di BIFF tahun ini bukan kali pertama. Banyak film sebelumnya yang ia produseri, mendapat dukungan dari partisipasinya tersebut.

“Contoh, sebelum 24 Jam Bersama Gaspar, ada film Autobiography oleh Makbul Mubarak yang dari awal sudah kita bawa ke Berlinale Coproduction, Locarno Open Door.

“Kemudian kita bertemu dengan partner-partner kerja melalui pertemuan-pertemuan itu,” terang Yulia.

Halaman:

Tags

Terkini