senggang

Women From Rote Island: Tingginya Kasus Pelecehan Seksual di Balik Keindahan Alam Pulau Rote

Jumat, 8 Desember 2023 | 18:52 WIB
Women From Rote Island, Film Terbaik FFI 2023 yang mengangkat isu pelecehan seksual di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. (Lembaga Sensor Film )

PejuangKantoran.com - Siapapun pasti tak menduga bahwa Women From Rote Island akan merebut Piala Citra sebagai Film Terbaik di Festival Film Indonesia 2023. Namun film ini memang punya pesan yang sangat kuat.

Di awal film Women From Rote Island, penonton dibuat terpukau dengan keindahan Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, dengan pantai yang cantik dan bukit-bukit nan hijau.

Tetapi hal itu tak berlangsung lama karena konflik serta gambaran tradisi di Rote segera digulirkan sutradara Jeremias Nyangoen.

Baca Juga: Hasil Seleksi PPPK 2023 Sudah Diumumkan, Cek Link Pengumuman dan Tahap Seleksi Selanjutnya

Women From Rote Island menceritakan Orpha (Merlinda Dessy Adoe), atau yang biasa dipanggil dengan panggilan Mama, yang bersiteguh untuk menunda pemakaman sang suami sampai anak perempuannya, Martha (Irma Novita Rihi), pulang dari Malaysia.

Namun, perilaku Martha yang sangat berbeda membuat bingung keluarga saat menghadapinya. Martha mengalami depresi akibat kekerasan seksual yang dialami setelah dua tahun bekerja sebagai buruh migran di Malaysia.

Sebagai ibu, Mama harus berjuang menghidupi keluarga dengan berjualan gula merah yang diolah sendiri. Setia sebagai pendamping Martha yang mengalami depresi ini, ada sang adik, Bertha (Keziallum Ratu Ke).

Hanya saja, tidak mudah memahami apa yang terjadi pada Martha. Selain itu, lingkungan yang kurang kondusif membuat Martha kembali menjadi korban pelecehan seksual. Ironisnya, pelaku pelecehan seksual ternyata masih keluarga dekatnya.

Kisah Women From Rote Island ini semakin pelik ketika Bertha tiba-tiba menghilang setelah menyaksikan pemerkosaan di sebuah rumah kosong.

Bagaimana Mama dan keluarga besar menghadapi peristiwa-peristiwa tragis yang silih berganti menimpa anak-anaknya itu membuat emosi penonton benar-benar dibuat bergejolak mulai dari senang, sedih hingga miris, selama 1 jam 46 menit.

Wajar usai pemutaran film ini di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF18) di Yogyakarta, akhir November lalu, penonton riuh bertepuk tangan. Bahkan, produser Mira Lesmana yang tampak di antara para penonton sampai memberikan standing ovation.

Baca Juga: Irwan Hidayat dan Inspirasi Lagu Barat untuk Budaya Minum Jamu Sehat

Women From Rote Island mengangkat isu sosial tentang pelecehan seksual terhadap kaum perempuan. Isu ini sebenarnya tidak hanya marak di NTT, tetapi juga di berbagai daerah lain di Indonesia.

Selain gambar-gambar film yang menakjubkan, akting para pemain terutama Irma Novita Rihi sebagai Martha, sangat menakjubkan.

Totalitas aktingnya luar biasa, terutama saat mengalami pelecehan seksual, ekspresi kuat dari wajahnya langsung tertangkap oleh penonton.

Halaman:

Tags

Terkini