senggang

Women from Rote Island Gunakan Teknik One Take Long Shot, Bikin Penonton Seolah Berada dalam Adegan

Senin, 19 Februari 2024 | 10:08 WIB
Sutradara Jeremias Nyangoen menggunakan teknik pengambilan gambar one take, long shot, untuk Women from Rote Island. (Instagram @womenfromroteisland)

PejuangKantoran.com - Setelah diumumkan sebagai film terbaik Festival Film Indonesia 2023, Women from Rote Island akhirnya mendapat jadwal tayang di bioskop pada 22 Februari 2024.

Ditayangkannya Women from Rote Island di bioskop umum menjadi penantian panjang, karena film ini juga akan ditayangkan di enam negara dan masih akan terus berkeliling di berbagai festival film internasional.

Baca Juga: Pangeran Harry Ternyata Pernah Memikirkan untuk Pindah Warga Negara, Mau Jadi Warga Negara Amerika Ikut Meghan Markle?

“Saya belum bisa menyebutkan semuanya tetapi film ini akan tayang di Malaysia, Singapura dan Brunei habis Lebaran,” terang produser Rizka Shakira saat pemutaran perdana Women from Rote Island di Epicentrum XXI, Kuningan, Jumat (16/2/2024).

“Film ini juga akan terus keliling di festival-festival film internasional, karena kita sudah mendaftar di 16 festival,” lanjutnya.

Terlepas dari isunya yang cukup berat, banyak hal yang patut dipuji dari film garapan sutradara Jeremias Nyangoen ini. Salah satunya dari kelugasan sinematografer Joseph Fofid dalam menggerakkan kamera dengan gaya one take, long shot.

Gaya one take, long shot ini membuat narasi cerita menjadi menyentuh, sekaligus membuat penonton merasa seperti berada di dalam setiap adegan.

Baca Juga: Bangkok Dikepung Polusi, Pejuang Kantoran Diminta WFH 2 Hari

Penonton dibuat ikut merasakan kebingungan Mama Orpa (Linda Adoe) yang melihat perubahan mental Martha (Irma Rihi) setelah pulang dari Malaysia.

Atau ikut menangis ketika Mama Orpa melihat dari jauh kilang tempat Bertha (Sallum Ratu Ke) terbunuh. Penonton hanyut dalam emosi-emosi perempuan-perempuan asal Rote yang malang ini.

Membuat film dengan muatan pesan penting dalam balutan gambar adegan yang indah, serta efek dan musik latar yang ciamik tidaklah murah. Rizka Shakira menyebutkan bahwa biaya produksi film ini mencapai Rp12 miliar lebih.

Sebagian besar dari biaya ini dihabiskan untuk art department dan DOP (Director of Photography, atau Penata Kamera).

Baca Juga: 5 Makanan Penambah Trombosit, Dari Pepaya Sampai Cokelat Hitam

“Rata-rata semua yang kita pilih memang bagus. Tapi, seperti yang pak Jeri (panggilan Jeremias Nyangoen) bilang, niat awal kita memang ingin membuat film bagus dan bergizi,” ungkap Rizka.

Sebagai sutradara dan penulis skenario, Jeremias Nyangoen juga butuh waktu cukup lama untuk menggarap cerita. Pada awalnya, sutradara kelahiran Pontianak, 54 tahun lalu itu, ditawari untuk menulis di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Halaman:

Tags

Terkini