Mereka mungkin juga bekerja dari jarak jauh dari tempat tujuan mereka di sela-sela relaksasi dan kegiatan wisata.
Ketika melakukan perjalanan diam-diam tersebut, karyawan sering kali mengajak teman atau keluarga, tetapi mereka juga bisa pergi sendiri.
Baca Juga: Besok Long Weekend, Siap-siap Liburan ke Negara ASEAN Murah Meriah dan Bisa Bolak-balik Setahun!
"Ini pengalaman yang terjalin ke dalam gaya hidup digital nomad dan remote worker sejak awal mula konektivitas," kata Erick Prince, travel blogger dan pendiri situs perjalanan Minority Nomad.
"Sekarang, dunia perjalanan yang lebih luas mulai merasakan pesonanya. Namun, seperti halnya hidangan apa pun, tren ini hadir dengan perpaduan rasa yang unik -menyenangkan sekaligus menantang.”
Hanya saja, Sean Lau mengatakan ada risiko dalam melakukan hush trip, terutama kalau kamu bepergian ke suatu tempat dengan konektivitas internet yang tidak dapat diandalkan atau perbedaan zona waktu yang signifikan.
Kamu mungkin juga akan mengalami masalah dengan atasan yang dapat membahayakan masa depan kamu di perusahaan tersebut.
Baca Juga: KKN di Desa Penari 2 Dikemas dengan Format IMAX dan Tayang Serentak di Indonesia dan Amerika
"Hal ini menunjukkan kurangnya kepercayaan antara atasan dan karyawan, apalagi kalau mereka baru memanggil karyawan tersebut ke kantor di menit-menit terakhir," kata Gabby Beckford.
Selain terkikisnya kepercayaan, masalah administratif juga dapat muncul, terutama kalau kamu mendadak memutuskan untuk memperpanjang (extend) perjalanan singkat kamu.