PejuangKantoran.com - Ika Natassa dikenal sebagai penulis novel kisah romantis dengan konflik serta dinamika yang menarik.
Namun ketika novelnya, Heartbreak Motel, menarik perhatian sutradara Angga Dwimas Sasongko, Ika rela nuansa romantis dalam cerita maupun tokoh-tokohnya "diobrak-abrik".
Kisah cinta segitiga antara Ava (Laura Basuki), Malik (Reza Rahadian), dan Raga (Chicco Jerikho) tidak lagi menjadi karya yang penuh dengan romantisme seperti dalam novelnya yang dirilis 2022.
Baca Juga: Menteri Bappenas Sebut PNS Bakal Naik Gaji di 2025
Mengambil sudut pandang kegalauan yang berkecamuk dalam pikiran Ava, kisah cinta ini menjadi film yang penuh dengan ketegangan dan misteri.
“Kak Ika dan Visinema itu sepertinya sudah punya koneksi yang memang sudah sejak lama saling ngefans. Jadi, untuk mendapatkan rights cerita Heartbreak Motel ini tidak perlu waktu terlalu lama untuk memprosesnya.
"Kayak setiap peran akan menemukan jodoh pemainnya, setiap karya juga akan dipertemukan jodoh pembuat karya yang lain,” ungkap produser Kori Adyaning, saat konferensi pers Heartbreak Motel di Epicentrum XXl, Kuningan, Jakarta, Kamis (26/7/2024).
Dirajut dengan beberapa tahapan latar belakang masa remaja Ava sebagai keluarga broken home, setiap lini masa kehidupan Ava disuguhkan Angga Dwimas dalam tiga jenis kamera: kamera film 16mm, 35mm dan digital.
“Bisa dibilang Heartbreak Motel itu film drama romance termahal yang pernah saya bikin. Ketika saya membaca novel Kak Ika, menurut saya, ini novelnya yang paling sinematik!
"Pas membaca novelnya, langsung terbayang bagaimana visualisasinya nanti sampai akhirnya saya merasa bagaimana ya, membagikan pengalaman sinematik yang baru dan berbeda buat penonton," ujar Angga.
Baca Juga: Microsoft Down Lagi, Pengguna Tidak Dapat Mengakses Email, Xbox Live, dan Fungsi 365
Ketika Alim Sudio menulis skenarionya, ada potensi kisah dalam filmnya disuguhkan dengan format yang dinamis.
Sehingga, Angga pun merekam sebagian ceritanya dengan kamera digital, subcerita-nya dengan kamera seluloid 16mm, ada pula subcerita yang direkam dengan kamera seluloid 35mm.
"Ini sebuah usaha untuk memberikan pengalaman menonton tiga dunia yang berbeda. Tidak cuma dari para karakternya, tetapi bagaimana secara visual, sinematografi disajikan!” katanya lagi.
Ia menambahkan, para pemeran utamanya plus beberapa pemain cameo (Luna Maya, Jeremy Thomas, Pierre Gruno) bisa disebut sebagai "creme de la creme" (terbaik dari yang terbaik, Red.) aktor-aktor papan atas perfilman Indonesia.