PejuangKantoran.com - Reksadana saat ini memiliki imbal hasil sekitar 4 persenan. Tapi tahukah kamu bahwa saat ini semuanya berpotensi naik seiring prediksi pemangkasan suku bunga acuan oleh Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve mulai September 2024 dan Bank Indonesia.
Tim Analis Bareksa memprediksi pemangkasan suku bunga acuan oleh The Fed dan BI dalam setahun ke depan bisa mencapai 1,25%. Saat ini level suku bunga acuan The Fed di level 5,25% hingga 5,5% dan BI Rate di 6,25%.
Karena itu setahun mendatang, suku bunga AS berportensi turun jadi 4-4,25% dan BI Rate jadi 5,25%. Tren suku bunga rendah berpotensi mendorong pasar Obligasi Negara, karena investor akan lebih memilih menyimpan asetnya di obligasi ketimbang deposito.
Baca Juga: Emma Raducanu Ngaku FOMO setelah Menolak Kesempatan Gabung Tim Inggris di Olimpiade Paris 2024
Berdasarkan data super app investasi Bareksa, tercatat top 10 reksadana pendapatan tetap dengan imbal hasil tertinggi pada Juli 2023 bisa mencatatkan cuan antara 9,59% hingga 10,76%. Beberapa produk reksadana berbasis Obligasi Negara yang bisa dipertimbangkan investor di antaranya Mandiri Investa Dana Obligasi Negara seri II, Allianz Fixed Income Fund 2 dan Manulife Obligasi Negara Indonesia II kelas A.
Tim Analis Bareksa menambahkan, dengan menguatnya kemungkinan pemangkasan suku bunga AS, setelah rilis data inflasi kuartal II 2024 yang semakin melandai menandakan prospek pemangkasan suku bunga global semakin cerah.
Menurut data CME FedWatch Tools (29/7), sebanyak 87,7% pelaku pasar memprediksi suku bunga AS dipangkas jadi 5-5,25% pada rapat September nanti. Kemudian pada Desember 2024, sebanyak 61,9% pelaku pasar yakin suku bunga The Fed turun jadi 4,5-4,75%. Bahkan pada Juni tahun depan, 35% pelaku pasar memperkirakan suku bunga Negara Paman Sam terpangkas jadi 3,75-4%.
Baca Juga: Lowongan PT Indosat Tbk untuk Menjadi Sr Officer-Contract Management
Meski begitu, Tim Analis Bareksa mengingatkan agar investor mewaspadai risiko pasar akibat penerbitan Surat Utang Pemerintah AS yang bisa mebuat yield meningkat dalam jangka pendek pada akhir tahun nanti.
Kondisi itu berpotensi mengakibatkan aliran dana asing akan masuk ke pasar obligasi AS dan bisa menekan kurs rupiah sementara waktu. Karena itu, investor disarankan untuk masuk investasi di reksadana Obligasi Negara secara bertahap, karena dampak pemangkasan suku bunga terhadap kinerja reksadana ini cukup signifikan.
Artikel Terkait
Tak Perlu Bingung untuk Punya Duit Liburan, Ini Cara Nabung yang Mudah
Ternyata Gampang Banget, Menerima dan Mentransfer Uang melalui QRIS Transfer di myBCA
Ini Dia 4 Tips Belanja Cerdas dan Nyaman di PRJ 2024
Kupon Pertama SBR013 Bakal Ditransfer 10 Agustus 2024, Yuk Hitung Imbal Hasil yang Kamu Dapat!
5 Cara Agar Bisa Menabung Banyak dengan Gaji Pas-pasan yang Kamu Punya Sekarang
Imbal Hasil Pertama ST012 Masuk Rekening Hari Ini: Rabu 10 Juli 2024, Cek Berapa yang Kamu Terima!
Rekomendasi Investasi Jangka Panjang Buat Pejuang Kantoran yang Mau Nabung!
Ini Dia Daftar 10 Negara Terkaya di 2024!
Yang Perlu Dipertimbangkan saat Membeli Pakaian Baru Biar Nggak Buang-buang Duit
Duh Gaji Dipotong, Bulanan Rumah Tangga Aman?