PejuangKantoran.com - Rumah produksi Josh Pictures merilis film Made In Bali yang mengangkat kisah cinta segitiga antara Made (Rayn Wijaya), Ni Luh (Vonny Felicia), dan Putu (Bulan Sutena).
Film ini menjadi lebih dari sekadar film cinta remaja karena memperkenalkan berbagai adat budaya Bali. Mengambil lokasi di Bali membuat adegan-adegannya terlihat indah dan bikin penonton jadi ingin berlibur ke Bali.
“Secara desain produksi, dalam film ini kami ingin menunjukkan kisah cinta dari seorang dalang wayang kulit muda dan pilihan hidup yang dijalaninya.
Baca Juga: Unilever Didemo Serikat Pekerjanya, Imbas Pemecatan Karyawan yang Juga Sekjen FSBMM
“Itu sebabnya kami memanfaatkan keindahan pulau Bali dan tempat-tempat yang mampu mendukung ceritanya. Salah satunya, kami syuting di Desa Taro, salah satu desa tertua di Bali.
“Penonton bisa melihat perpaduan dari unsur alam, tradisi, spiritual dan kisah cinta tiga anak muda ini,” ujar Joshua Tarigan, produser eksekutif dari Josh Pictures saat konferensi pers Made In Bali di Epicentrum XXI, Kuningan, Jumat (14/2/2025).
Film garapan sutradara Johar Prayudhi ini menceritakan perjalanan hidup seorang remaja yang tengah mencari arti cinta sekaligus belajar untuk mengambil keputusan sesuai dengan kata hatinya.
Film bergulir melalui narasi dari Made (Rayn Wijaya) sebagai POV, untuk menceritakan kehidupannya sebagai anak keluarga dalang wayang kulit Bali. Sejak kecil masa depan Made sudah ditentukan untuk menjadi dalang, mengikuti jejak ayahnya.
Ia dijodohkan dengan Putu (Bulan Sutena), putri keluarga pembuat wayang. Di sisi lain, Made juga berteman dekat dengan tetangganya sejak kecil, Ni Luh (Vonny Felicia).
Agar terlihat luwes dan paham tentang dunia dalang, Rayn Wijaya berusaha total dalam persiapan syuting. Ia sengaja datang ke Bali beberapa hari lebih awal dari jadwal syuting agar punya waktu lebih lama untuk berlatih dalang bersama dalang asli sebagai mentornya.
“Aku minta ijin datang ke Bali duluan agar bisa belajar langsung. Aku berlatih cukup keras bersama pak Wayan bersama temannya yang asli dalang tradisional wayang kulit,” seru Rayn, yang lahir di Jakarta, 26 Oktober 1995.
Walau hanya sempat belajar dalang tiga hari, pengalaman tersebut sangat membantu Rayn saat syuting Made In Bali.
“Adegan saya jadi dalang memang tidak banyak, tapi dengan apa yang saya dapat dalam tiga hari itu sangat membantu. Setidaknya saat melakukan adegan, saya cukup fasih soal wayang dan seperti apa pembawaan sebagai dalang.
“Saya belajar bagaimana pegang wayang agar tidak terlihat kaku. Juga latihan dengan alat musik yang ketukannya ada di kaki, itu tidak mudah sama sekali,” tambahnya.