PejuangKantoran.com - Pernah nggak sih kamu merasa makin malas mikir sejak teknologi makin canggih? Dulu kita harus menghafal nomor telepon, sekarang tinggal buka kontak di HP. Dulu, kita pakai kalkulator buat hitung angka besar, sekarang tinggal tanya ke AI seperti ChatGPT.
Tetapi, apakah ini berarti kita jadi lebih bodoh? Menurut sebuah studi baru dari Microsoft dan Carnegie Mellon University, jawabannya mungkin "iya"—tapi nggak sesederhana itu.
Memengaruhi cara kita berpikir
Studi ini meneliti bagaimana AI generatif, seperti ChatGPT, memengaruhi cara kita berpikir kritis. Secara umum, berpikir kritis itu berarti berpikir dengan baik. Kita menilai proses berpikir kita berdasarkan norma seperti kejelasan, ketepatan, relevansi, dan logika.
Baca Juga: 7 Keuntungan Menjadi Individual Contributor daripada Menjadi Manajer yang Mengelola Anak Buah
Menurut definisi lama yang dikembangkan oleh Benjamin Bloom pada tahun 1956, berpikir kritis terdiri atas berbagai level: mulai dari mengingat informasi, memahami, menerapkan, menganalisis, mensintesis, hingga mengevaluasi. Namun definisi ini sudah banyak dikritik.
Robert Marzano, seorang pakar pendidikan, bahkan menyebutkan bahwa berpikir kritis tidak harus selalu hierarkis—terkadang kita bisa langsung mulai dari evaluasi tanpa perlu melewati tahap-tahap sebelumnya.
Menariknya, AI generatif seperti ChatGPT juga menggunakan model berpikir yang mirip dengan taksonomi Bloom. Jadi, bisa dibilang studi ini juga menguji seberapa efektif AI dalam membentuk cara kita memahami berpikir kritis itu sendiri.
Makin percaya hasil AI, makin jarang berpikir
Salah satu temuan menarik dari studi yang melibatkan 319 knowledge workers seperti nakes, pendidik, dan teknisi ini, adalah bahwa semakin seseorang percaya pada AI, semakin jarang mereka menggunakan pemikiran kritis.
Baca Juga: Henti Jantung Diduga Jadi Penyebab Kematian Kim Sae-ron, Ternyata Bisa Dialami di Usia Muda
Sebaliknya, orang yang lebih percaya pada dirinya sendiri cenderung lebih kritis dalam mengevaluasi informasi yang diberikan AI.
"Ketika orang merasa AI bisa diandalkan, mereka cenderung tidak terlalu banyak mempertanyakan hasilnya," kata salah satu peneliti dalam studi ini.
"Namun, bagi mereka yang lebih skeptis terhadap AI, justru berpikir kritis mereka lebih terasah karena mereka terus mengevaluasi informasi yang diberikan."
Dalam lingkungan kerja yang menuntut akurasi tinggi, seperti dunia medis atau teknik, para pekerja tetap berusaha memastikan hasil kerja mereka benar karena takut akan konsekuensi kesalahan.
Artikel Terkait
Para Pemain Rahasia Rasa Ungkap Makanan Favorit: Ternyata Valerie Thomas Gak Bisa Lepas dari Kerupuk!
Ini Daftar Manfaat Adanya Fitur GPS Built In di Sport Watch atau Smart Watch
21% Karyawan Gen Z Tak Ingin Menikah dengan Orang yang Gajinya Lebih Rendah daripada Mereka
Mengenal Individual Contributor, Peran untuk yang Tidak Ingin Bertanggungjawab Mengelola Tim
Hati-Hati Membuat Stiker WhatsApp Menggunakan Wajah Orang Lain, Bisa Dipenjara 8 Tahun Kalau Bermasalah!
Rekomendasi Ahli 10 Sepatu Lari Terbaik untuk Tahun 2025. Jangan Salah Pilih!
Lowongan Kerja Event & Promotions Manager di Plaza Indonesia, Cocok Buat yang Passionate Bidang Event and Promotion