Menurut Gustav Gyllenhammar, Wakil Presiden Pasar dan Langganan Spotify, alasan utama perubahan ini adalah perilaku pengguna muda, khususnya Gen Z.
Mereka terbiasa dengan platform lain seperti YouTube atau TikTok, yang bisa langsung memilih konten yang diinginkan.
“Bagi banyak anak muda, pengalaman Spotify gratis sebelumnya terasa tidak jalan. Mereka klik lagu tertentu, tapi yang muncul malah lagu lain. Itu bikin frustrasi,” kata Gyllenhammar dalam wawancara dengan Music Business Worldwide.
Spotify melihat hal itu sebagai masalah retensi. Banyak orang jadi cepat bosan dengan layanan gratis karena keterbatasannya.
Padahal, data internal mereka menunjukkan bahwa 60% pelanggan Premium awalnya adalah pengguna gratis.
Jadi, pengalaman gratis yang lebih baik sebenarnya penting untuk pertumbuhan jangka panjang Spotify.
Tetap ada nilai Premium
Meski versi gratis sekarang lebih “ramah pengguna,” Spotify tetap menjaga jarak antara layanan gratis dan berbayar.
Gyllenhammar menegaskan, Premium punya keunggulan yang tidak bisa ditandingi. Mulai dari kualitas suara lossless yang baru dirilis, pemutaran offline untuk hemat kuota, hingga bebas iklan.
Dengan kata lain, Spotify ingin membuat versi gratis lebih menarik, tetapi tetap mendorong pengguna untuk naik kelas ke Premium.
Bagi kamu yang selama ini malas pakai Spotify gratis karena ribet harus shuffle, kabar ini jelas menggembirakan.
Sekarang kamu bisa memilih lagu favorit tanpa harus pusing lompat-lompat. Meski ada batasan harian dan iklan yang masih muncul, setidaknya pengalaman gratisnya jadi jauh lebih menyenangkan.
Spotify tampaknya ingin memastikan pengguna gratis tetap betah, sambil tetap menjaga alasan kuat kenapa orang harus berlangganan Premium. ***