senggang

Panorama Sinema Indonesia: Tujuh Dekade Film Nasional Bersinar di Paris

Senin, 15 Desember 2025 | 19:58 WIB
La Cinémathèque française—salah satu institusi film paling berpengaruh dan dihormati di dunia—menggelar sebuah pameran retrospektif berskala besar bertajuk “Panorama Sinema Indonesia” di mk2 Bibliothèque x Centre Pompidou, Paris, pada 10–21 Desember. (Dok. IFI)

PejuangKantoran.com - Dalam rangka memperingati 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia–Prancis, sinema Indonesia mendapatkan sorotan internasional yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Pada Desember ini, La Cinémathèque française, salah satu institusi film paling berpengaruh dan dihormati di dunia, menggelar sebuah pameran retrospektif berskala besar bertajuk “Panorama Sinema Indonesia” di mk2 Bibliothèque x Centre Pompidou, Paris, pada 10–21 Desember.

Program bersejarah ini terselenggara berkat dukungan Kedutaan Besar Prancis – Institut français d’Indonésie (IFI), Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, serta Forum Lenteng, dan menjadi tonggak penting dalam perjalanan sinema nasional di panggung global.

Tonggak Sejarah bagi Sinema Indonesia

Retrospektif ini mencatatkan sejarah sebagai program sinema Indonesia pertama yang diselenggarakan oleh institusi film kelas dunia di luar negeri. Kehadiran Indonesia di La Cinémathèque française bukan hanya simbol pengakuan, tetapi juga penegasan bahwa sinema Indonesia telah menjadi bagian penting dari percakapan perfilman internasional.

Baca Juga: Lolos Seleksi dari 16 Ribu Film, Para Perasuk Siap Berkompetisi di Sundance Film Festival

Melalui kurasi yang mencakup tujuh dekade pembuatan film, Panorama Sinema Indonesia menampilkan karya-karya dari era awal pascakemerdekaan hingga film-film kontemporer yang berani dan progresif. Penonton Prancis dan internasional diajak menelusuri Indonesia melalui layar lebar, menyaksikan keragaman budaya, dinamika sosial, eksperimen artistik, serta hubungan sinema dengan sejarah dan perubahan zaman.

Program ini menghadirkan potret sinema Indonesia sebagai ruang ekspresi yang terus berkembang, merefleksikan identitas bangsa sekaligus membuka dialog dengan dunia.

Penyelenggaraan retrospektif oleh La Cinémathèque française memiliki makna yang sangat penting. Institusi ini dikenal luas sebagai pusat arsip, kajian, dan pameran film paling berpengaruh di dunia, dengan peran historis dalam menjaga dan merayakan warisan sinema global. Kehadiran sinema Indonesia di ruang ini menandai pengakuan atas nilai artistik dan historisnya.

Baca Juga: Purbaya Siapkan Rp60 T untuk Pulihkan Sumatra: 'Anggarannya Disisir dari Rapat-rapat Nggak Jelas'

Pembukaan resmi pada 10 Desember turut dihadiri oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menegaskan komitmen negara dalam mendukung diplomasi budaya melalui film. Acara ini juga menjadi ajang pertemuan bagi sejumlah talenta Indonesia lintas generasi, di antaranya Joko Anwar, Nia Dinata, Riri Riza, Aditya Ahmad (penerima residensi Festival Cannes 2024), serta aktor dan aktris terkemuka seperti Christine Hakim, Asmara Abigail, dan Ario Bayu, yang juga menjabat sebagai Ketua Festival Film Indonesia.

 

 

Tags

Terkini