senggang

Pariwisata Indonesia Terdampak Konflik di Timur Tengah, Manfaatkan Libur Lebaran dan Revenge Travel

Selasa, 17 Maret 2026 | 21:05 WIB
Ilustrasi: Qatar Airways banyak bekerja sama dengan maskapai penerbangan Asia Tenggara untuk membawa penumpang dari Barat. (Pexels/Jeffry S.S.)

• Melakukan perluasan Bebas Visa Kunjungan (BVK). Kebijakan BVK di Indonesia kepada 169 negara sejak tahun 2015 lalu berhasil memacu pertumbuhan wisatawan hingga 15% per tahun. Hal ini bahkan mampu menciptakan 400.000 lapangan kerja baru di sektor pariwisata.

• Memperkuat pasar domestik dengan memanfaatkan momentum libur lebaran sebagai jaring pengaman utama. Konsep micro-tourism yaitu destinasi dalam radius perjalanan darat bisa dikemas untuk memberikan pengalaman bagi wisatawan domestik.

• Memberikan stimulus berupa diskon transportasi selama periode Lebaran 2026. Kebijakan Work From Anywhere (WFA) juga didorong untuk menggerakkan wisatawan ke berbagai daerah.

• Negosiasi rute internasional baru, memperkuat branding Indonesia sebagai destinasi yang aman dan stabil, serta mempromosikan destinasi bagi Digital Nomad. Pekerja remote didorong untuk bekerja dari Jakarta, Kepulauan Riau, atau KEK Kura-Kura Bali. Ketiga tempat ini punya potensi sebagai ekosistem kerja yang aman dan berteknologi tinggi.

 

Baca Juga: Harga Minyak Terus Naik, Muncul Wacana WFH dan Pengurangan Hari Kerja untuk Penghematan BBM

Harapan setelah konflik mereda

Meski saat ini situasinya pelik, para pelaku industri berharap akan ada fenomena revenge travel atau wisata balas dendam setelah konflik mereda, seperti yang terjadi pasca pandemi COVID-19.

Lucy Jackson Walsh, pendiri firma perjalanan mewah Lightfoot Travel, tetap mencoba optimis.

"Yang saya harapkan adalah kita bisa melihat fenomena 'wisata balas dendam' setelah konflik mereda. Setelah pandemi COVID-19, saat pasar kembali pulih, aktivitas perjalanan langsung melonjak lagi," ujarnya.

Untuk sekarang ini, strategi yang diambil adalah mengalihkan fokus ke perjalanan antarnegara Asia atau ke destinasi yang lebih jauh seperti Australia, yang jalurnya tidak perlu melewati zona merah di Timur Tengah.

Bagaimana dengan kamu, apakah ada rencana perjalanan kamu yang tertunda gara-gara konflik di Timur Tengah?

Halaman:

Tags

Terkini