Pariwisata Indonesia Terdampak Konflik di Timur Tengah, Manfaatkan Libur Lebaran dan Revenge Travel

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Selasa, 17 Maret 2026 | 21:05 WIB
Ilustrasi: Qatar Airways banyak bekerja sama dengan maskapai penerbangan Asia Tenggara untuk membawa penumpang dari Barat. (Pexels/Jeffry S.S.)
Ilustrasi: Qatar Airways banyak bekerja sama dengan maskapai penerbangan Asia Tenggara untuk membawa penumpang dari Barat. (Pexels/Jeffry S.S.)

PejuangKantoran.com - Dampak konflik di Timur Tengah ternyata merembet sampai ke Asia Tenggara. Perang yang melibatkan Iran ini bukan cuma soal politik dan militer, tapi juga mulai memutus jalur ekonomi kawasan kita, yaitu pariwisata.

Masalah utamanya ada di udara. Serangan rudal dan drone membuat pusat penerbangan besar seperti Dubai, Abu Dhabi, dan Doha terpaksa ditutup atau dibatasi.

Padahal, buat turis Eropa atau Amerika Serikat, bandara-bandara di Timur Tengah ini adalah titik transit utama sebelum mereka mendarat di Bali atau Kamboja.

Baca Juga: Apa Isi Goodie Bag Academy Awards Senilai Rp5,5 Miliar yang Dibagikan untuk Para Nominee?

Dampak buat ekonomi lokal

Oleh karena itu, selain Thailand dan Kamboja, kita yang ada di Indonesia juga harus mulai waspada. Wisatawan mancanegara sekarang ini susah menemukan jalur terbang yang aman dan terjangkau.

"Tidak ada penerbangan langsung (non-stop) antara Eropa dengan destinasi seperti Bali dan Kamboja.

"Negara-negara ini, yang sangat bergantung pada pariwisata, juga lebih terdampak karena adanya efek domino pada ekonomi mereka," jelas Brendan Sobie, analis penerbangan independen dari Singapura.

Bayangkan saja, pariwisata menyumbang sekitar 12% bagi ekonomi Thailand dan hampir 10% bagi Kamboja. Kalau pesawat tidak bisa mendarat, wisata lokal bakal terpukul. Hotel sepi, restoran kosong, dan UMKM pun ikut terkena imbasnya.

Indonesia kehilangan 5.500 wisawatan

Sementara itu, maskapai seperti Malaysia Airlines juga ikutan terimbas karena mereka banyak mengandalkan kerja sama dengan Qatar Airways untuk membawa penumpang dari Barat. Kalau Doha tidak bisa disinggahi, aliran turis otomatis mampet.

Masalahnya nggak cuma itu. Harga bahan bakar pesawat melonjak dua kali lipat sejak konflik dimulai. Maskapai terpaksa mengenakan biaya tambahan (surcharge), bikin harga tiket makin mahal. Pesanan tiket pesawat sempat anjlok hingga 50% di minggu pertama perang. 

Baca Juga: Bukan Hanya Terapkan WFH, Para Ekonom Ajukan Sejumlah Saran untuk Menghemat Pemakaian BBM

Akibat ketegangan antara Amerika, Israel, dan Iran, Indonesia sendiri diperkirakan bakal kehilangan 5.500 wisatawan mancanegara. Potensi kerugian devisa mencapai Rp184,8 miliar per hari.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan tantangan serius yang harus segera dimitigasi saat ini, yaitu gangguan pada sembilan rute internasional di Bandara Soekarno-Hatta dan Ngurah Rai yang berdampak pada lebih dari 47 ribu penumpang.

Saat webinar bertema Tourism Under Fire: Dampak Eskalasi Konflik Global terhadap Pariwisata, Senin (16/03/2026) lalu, Menko Airlangga memaparkan beberapa langkah mitigasi, di antaranya:

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Fortune, Warta Ekonomi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X