PejuangKantoran.com - Film Seni Merayu Tuhan yang diadaptasi dari buku best seller karya Husein Ja’far Al-Hadar (dikenal dengan sapaan Habib Ja'far) menghadirkan tema menarik dengan konsep coming of age, atau proses pendewasaan seseorang.
Adalah Hikmah (Ari Irham) yang menikmati karirnya sebagai editor video di rumah produksi milik Gary (Onadio Leonardo). Ia punya sahabat bernama Khotib (Teuku Rizky), dan pacar, Sophia (Lutesha).
Kesibukan Hikmah bekerja membuat dirinya jarang pulang ke rumah, sehingga ia sangat dirindukan sang ibu (Rieke Diah Pitaloka). Kesibukannya itu juga yang membuat dirinya tidak lagi rajin beribadah.
Baca Juga: Malaysia Airlines Buka Lowongan Kerja Cargo Operations Officer untuk Penempatan Penang Airport
Kehidupan spiritual Hikmah diuji ketika ibunya secara tiba-tiba meninggal. Ia mulai mempertanyakan makna kehidupannya, sekaligus berupaya untuk kembali dekat dengan Tuhan.
"Jadi waktu Wahana Kreator sedang mencari projek apa untuk slate terbaru, pada saat itu salah satu produser eksekutif kita, Orchida Ramadhania, datang membawa buku Seni Merayu Tuhan.
"Satu ruangan seperti tersedot dengan buku bersampul oranye itu. Langsung tanpa banyak debat, kami merasa ini yang ingin kita ceritakan. Semua hal yang kami resahkan, yang kami pedulikan bisa terwakilkan dari apa yang ada di dalam buku.
"Dan, akan menjadi lebih profound lagi kalau dia menjadi sebuah film!" ungkap produser eksekutif Salman Aristo, saat konferensi pers Seni Merayu Tuhan di Gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta, Kamis (2/7/2026).
Sebagai penulis buku, Habib Jafar sama sekali tidak menduga bukunya akan diangkat menjadi film. Dari tiga buku yang sudah ia tulis, Seni Merayu Tuhan memang karyanya yang paling laku terjual.
Habib, yang menyumbangkan 10 eksemplar bukunya untukPerpustakaan Nasional, mengaku mencurahkan keresahan pribadinya melalui buku tersebut.
Baca Juga: Buat Lulusan 2023-2026, Nih Ada Lowongan Magang untuk Tim Tax & Legal di Deloitte
Yang pertama adalah keresahan melihat orang bersemangat menjalankan ritualitas keberagamaan, namun nilai rayuan dan spiritualitasnya kepada Tuhan gersang.
"Seolah-olah amal bisa kita jadikan sebagai nilai tukar terhadap surganya Tuhan. Padahal, kata Nabi Muhammad, amal itu bukan untuk alat tukar surganya Tuhan, tapi amal itu sebagai alat untuk mengetuk pintu rahmatnya Tuhan.
"Jadi saya ingin update, orang-orang jangan hanya menjalankan ritualitas tapi di-update ritualitas itu untuk menjadi rayuan kepada Tuhan!” seru Habib, yang mengaku melalui film ini ingin menjadi habib sineas.
Melalui buku ini juga Habib Ja'far ingin semua orang bisa menjadi dewasa dengan melihat bahwa semua peluang bisa menjadi (upaya) rayuan kepada Tuhan.