Umat Hindu di Bali percaya bahwa Hari Raya Kuningan adalah hari ketika nenek moyang mereka kembali ke surga setelah mengunjungi bumi pada perayaan Galungan.
Mereka memberikan persembahan atau sesajen untuk diberikan kepada leluhur pada hari perpisahan mereka. Sesajiannya berupa nasi yang sudah menguning (itu sebabnya disebut Kuningan) yang diletakkan di dalam “mangkuk” kecil yang terbuat dari daun kelapa.
Mangkuk-mangkuk itu lalu dihiasi dengan sosok-sosok kecil wayang kulit yang melambangkan bidadari yang membawa kebahagiaan dan kekayaan ke bumi.
Persembahan umum lainnya berupa biji-bijian, ikan, dan buah-buahan seperti pepaya dan mentimun.
Nasi kuning adalah simbol rasa terima kasih manusia kepada Tuhan atas semua kehidupan, kegembiraan, kekayaan, kesehatan, dan kemakmuran yang diberikan.
Penduduk lokal Bali mempersiapkan Galungan dengan membuat batang bambu bunga—yang disebut penjor—dan menyiapkan makanan tradisional dan bahkan mengorbankan babi utuh.
Pada Hari Raya Kuningan kamu juga bisa melihat hiasan tamiang dan endongan tergantung di luar rumah dan pura.
Tamiang berarti perisai, yang mewakili perlindungan, pertahanan, dan siklus dunia. Ini berfungsi sebagai pengingat karma bagi manusia, dan bahwa mereka harus melindungi diri dari perilaku buruk.
Sedangkan endongan berarti kantong bekal. Hiasan ini terbuat dari daun kelapa dan berbentuk seperti tas atau saku. Orang Bali memasukkan berbagai benda seperti biji-bijian, buah-buahan, umbi-umbian di dalam endongan.
Beberapa orang melihatnya sebagai simbol persediaan makanan untuk perjalanan nenek moyang dari bumi ke surga. Dari segi spiritual, endongan merupakan bekal hakiki yang harus dimiliki oleh setiap manusia yang berilmu dan berbakti.
Bepergian di Bali selama perayaan Galungan dan Kuningan
Di beberapa desa, khususnya di wilayah Gianyar, barong atau ngelawang –mahluk mirip singa– berkeliling dari rumah ke rumah diikuti anak-anak yang memainkan alat musik tradisional Bali.
Kalau barong tiba di depan rumah seseorang, pemilik rumah harus memberikan persembahan yang disebut canang dengan sesari (uang) di atasnya.
Setelah menerima persembahan; barong akan menari dan memberkati rumah tersebut dan keluarga yang tinggal di dalamnya.
Baca Juga: Fakta Sang Saka Merah Putih yang Dijahit Fatmawati, Bukan Berasal dari Sprei Warna Putih