PejuangKantoran.com - Sebagai orang Padang yang lahir di Tangerang dan besar di Jakarta, Emir Mahira sempat merasa tidak mengenal kampung halaman orangtuanya sama sekali.
Itu sebabnya ia merasa ada kesamaan antara kehidupan pribadinya dengan Anwar, tokoh yang dia perankan di Onde Mande!. Anwar pun ditugaskan oleh kantornya untuk dinas ke Padang, kampung halaman yang tak pernah disinggahinya.
Sejak SMP, Emir Mahira menghabiskan masa remajanya di luar negeri. Ia kerap berpindah-pindah negara karena mengikuti penempatan tugas di mana sang ayah bekerja.
Baca Juga: Demi Teh Talua dan Jengkol, Emir Mahira Rela Berat Badannya Naik 2Kg Saat Syuting Onde Mande!
“Aku sekolah dari SMP sampai kuliah di luar negeri. At one point, aku merasa tidak mengenali identitasku sendiri. Aku tidak tahu aku itu seperti apa, dari mana asalnya.
"Bahkan, ini agak pretentious sih sebenarnya, tapi kalau aku ditanya apakah aku orang Indo, aku biasa jawab, oh aku multinasional," terang Emir Mahira, saat promosi Onde Mande! di Cinepolis Senayan Park, Jakarta, Rabu (14/6/2023).
Ia mengakui pernah melalui fase-fase tersebut ketika sedang mencari identitas dirinya. Ternyata, ia menemukan dirinya ketika kembali ke Indonesia. "Jadi aku dan Anwar journey-nya sama, seperti itu!”
Saat kembali ke Indonesia, aktor kelahiran 19 September 1997 ini baru merasakan kenyamanan yang selama ini yang ia cari.
“Jawabannya mungkin belum aku temukan sekarang, tapi pertanyaan-pertanyaan itu bisa mulai dijawab dengan cara aku mengenali asal-usul aku, yaitu Indonesia, Jakarta, dan keluarga aku.
Baca Juga: Pernah Ketemu Lionel Messi, Emir Mahira Menyayangkan Kapten Tim Argentina Batal Datang ke Jakarta
"Kenapa aku berpikiran begini, kenapa prinsip aku begini, kenapa moral value aku begini, itu semua dari rumah, dari keluarga.
"Sementara kalau dulu, aku yakin banget aku harus ke luar negeri, mengenali budaya-budaya yang berbeda untuk menemukan (jawaban soal identitas diri),” serunya.
Salah satu hal yang membuat Emir yakin bisa berdamai bahwa identitasnya ada di negeri sendiri dan merasa nyaman dengan situasi itu, adalah ketika ia bisa menjadi dirinya sendiri.
Saat ia tak punya rasa khawatir dengan anggapan orang di sekitarnya, atau bagaimana jika lingkungan tidak bisa menerimanya.
“Yang paling penting, aku punya tempat nyaman untuk berbicara tentang apapun. Dengan orangtua, ibu, bapak, dan kakak, aku bisa complain tentang hal-hal yang seharusnya nggak aku complain.