PejuangKantoran.com - Staf Khusus Presiden Putri Tanjung mengaku bersyukur selalu dikelilingi oleh perempuan-perempuan kuat yang sangat menginspirasi dan membantu pembentukan karakternya hingga saat ini.
Selain ibu, Putri Tanjung menyebut eyang putrinya sebagai sosok perempuan yang sangat ia kagumi. Dari eyang, ia diajarkan pentingnya pendidikan, serta pentingnya seorang perempuan untuk mandiri.
“Eyang putri, ibunda dari ibuku. Kenapa beliau begitu menginspirasi aku? Eyang putri itu orang Solo Keraton tapi dia sangat mengutamakan pendidikan. Ketika belum banyak orang yang mementingkan pendidikan, dia sekolah sudah sampai S2 pada zaman itu.
Baca Juga: Alejandro Garnacho, Penyerang Tim Argentina yang Segera Jadi Ayah di Usia Muda
“Sangat luar biasa sekali dan beliau menggunakan apa pun caranya untuk bisa mendapatkan gelar tersebut,” jelas Putri Tanjung, dalam talk show The Idole di Pacific Place, Jakarta, Kamis (15/6/2023) lalu.
Alasan kedua mengapa ia mengagumi eyang putrinya adalah karena ia lah yang mengajarkan dirinya untuk independen. Dari kecil, Putri sudah ditanamkan bahwa sebagai perempuan harus bisa mandiri.
“Harus bisa men-support diri sendiri, harus tahu nantinya mau apa. Dari situ, aku terpicu untuk terus berkarya dan menjadi kreatif,” ujar founder dan CEO CXO Media ini.
Ditempa dengan ajaran untuk mandiri itulah yang membuat dirinya sejak kecil berani untuk membuka usaha. Ia tidak memungkiri bahwa nama besar orangtuanya, Chairul Tanjung, menjadi satu tekanan sendiri.
“Di usia 15 tahun, aku melihat bapakku sebagai pengusaha yang luar biasa. Jadi, aku ingin seperti bapak. Dari kecil, aku coba bikin event buat pembuktian diri sendiri.
“Juga, ada peer pressure dari lingkungan. Karena bapakku sudah luar biasa, aku harus step up nih!” kenangnya.
Belum lagi insecurity yang ia rasakan karena penampilannya. Perempuan kelahiran 22 September 1996 ini mengaku saat duduk di bangku SD hingga SMP mendapat bully-an dari lingkungannya.
“Fisik aku dulu gemuk dan rambutku keriting, sehingga nggak percaya diri. Bagaimana caranya biar aku bisa keluar dari situ?
“Akhirnya, aku ikut organisasi dan menemukan passion di dunia event. Coba bikin-bikin event, walau tidak smooth tapi very empowering dan jadi lebih mengenal diri sendiri," kilah lulusan Communication and Media Technologies Academy of Art, University San Franscisco, ini.
Memiliki latarbelakang orangtua yang konglomerat ternyata tidak membuat bisnis atau apapun yang ingin ia lakukan berjalan mulus. Banyak sekali dilema yang dirasakan Putri Tanjung.