PejuangKantoran.com - Setiap kali mempunyai ide, aktor-sutradara-produser Umay Shahab selalu tertantang untuk merealisasikan ide tersebut ke dalam film.
Begitu juga Umay Shahab pun tertantang untuk mengangkat topik ini.
Dalam benaknya, apa yang terjadi atau apa yang kita rasakan jika kemajuan teknologi tersebut bisa membayar kerinduan kita pada orang terdekat yang sudah tidak ada dalam hidup kita.
Atau, dari angle yang lebih ringan, bisa bertemu dengan idola yang tidak mungkin dijumpai, atau yang dalam kehidupan sehari-hari tidak akan terjangkau.
Dari ide seperti itulah muncul cerita Ketika Berhenti di Sini. Imbas dari masa pandemi, banyak orang yang secara mendadak kehilangan orang yang mereka cintai tanpa punya kesempatan untuk bertemu yang terakhir kalinya.
Umay Shahab lantas mengawinkan ide dan apa yang ia alami itu menjadi satu cerita yang menyentuh.
“Seumur hidup saya tidak pernah diajarkan ibu untuk membuat orang menangis, tetapi di film ini saya bersyukur kalau ada yang menangis.
“Berarti ada yang merasakan apa yang kami semua kerjakan dan upayakan dengan hati,” tukas Umay Shahab, saat gala premiere Ketika Berhenti di Sini di Plaza Indonesia, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Menurutnya, tidak mudah mengerjakan film tersebut. Ia dan timnya membutuhkan waktu hampir tiga tahun untuk mengembangkan cerita, karakter, kacamatanya, dan lain-lain.
“Film ini punya banyak pesan yang ingin saya sampaikan lewat medium film. Semoga pesannya bisa tersampaikan dan bisa sampai ke hati juga,” harap sutradara berusia 22 tahun itu.
Pesan yang dimaksudnya adalah, bagaimana seseorang menghadapi kehilangan dan belajar untuk move on. Pesan seperti ini tampaknya mengena di hati penonton film Indonesia.
Baca Juga: Apakah Cillian Murphy Sudah Menikah? Hm… Kenalan Yuk, dengan Istrinya Selama 20 Tahun Ini
Setidaknya, hanya dalam kurun waktu enam hari dari penayangan perdana serentak di bioskop, Ketika Berhenti di Sini sudah ditonton 700.000 orang. Film ini melejit ke urutan 6 jajaran film Indonesia terlaris tahun 2023, menggeser Hello Ghost.
Umay menjelaskan kenapa proses penggarapan film ini memakan waktu begitu lama. Untuk riset kacamatanya sendiri, ia un berkonsultasi dengan beberapa pihak yang memang mengerti tentang AI dan AR, termasuk ke pakarnya di Taiwan.