Pejuangkantoran.com – Dalam perkembangan teknologi, terutama teknologi digital, yang sangat cepat saat ini, tuntutan untuk bisa beradaptasi dengan hal tersebut dengan cepat, menjadi kebutuhan mendasar. Seorang karyawan yang punya self-efficacy tinggi, ketika menghadapi, misal, sistem yang baru akan berkata “Awalnya pasti membingungkan, tetapi saya bisa mempelajarinya."
Setelah itu, ia akan mencoba fitur satu per satu, proaktif bertanya kepada trainer, dan berlatih setiap hari. Dalam waktu singkat, dia akan menguasai sistem baru tersebut.
Self-efficacy adalah keyakinan seseorang terhadap kemampuannya untuk menyelesaikan tugas, menghadapi tantangan, atau mencapai tujuan tertentu.
Konsep ini diperkenalkan oleh Albert Bandura dalam teori pembelajaran sosial. Albert Bandura adalah salah satu psikolog paling berpengaruh pada abad ke-20 dan awal abad ke-21. Ia dikenal karena mengubah cara para psikolog memahami bagaimana manusia belajar, termotivasi, dan mengubah perilakunya.
Seseorang yang punya self-efficacy yang tinggi punya ciri-ciri:
- menjadi lebih percaya diri menghadapi tantangan,
- tak mudah menyerah ketika mengalami kegagalan,
- melihat kesulitan sebagai kesempatan belajar, dan
- lebih termotivasi untuk mencapai tujuan.
Baca Juga: 9 Faktor Penting yang Bisa Membuat Work Engagement Karyawan Meningkat yang Wajib Diketahui Manajer
Faktor Yang Memengaruhi
Menurut Bandura, ada faktor utama yang memengaruhi self-efficacy seseorang. yaitu:
- Pengalaman keberhasilan (mastery experience): keberhasilan yang pernah dicapai meningkatkan keyakinan diri.
- Pengalaman orang lain (vicarious experience): melihat orang lain yang mirip dengan kita berhasil dapat meningkatkan keyakinan bahwa kita juga mampu.
- Dukungan verbal (verbal persuasion): dorongan, pujian, atau motivasi dari orang lain.
- Kondisi emosional dan fisik: stres, kecemasan, atau kelelahan dapat menurunkan self-efficacy.
Di lingkungan kerja, self-efficacy sering kali menentukan apakah seseorang berani mencoba, bertahan ketika menghadapi kesulitan, dan terus belajar hingga berhasil. Menariknya, dua karyawan dengan kompetensi yang hampir sama bisa menunjukkan kinerja yang sangat berbeda karena tingkat self-efficacy mereka berbeda.
Misal, ketika ada seseorang dipromosikan menjadi supervisor untuk pertama kalinya karena dinilai memenuhi kualifikasi. Ketika ia punya self-efficacy yang tinggi maka orang tersebut akan berpikir “"Saya memang belum pernah memimpin tim, tetapi saya bisa belajar. Saya akan meminta masukan dari atasan dan membaca referensi tentang leadership."
Baca Juga: Quiet Leadership Jadi Skill Penting di Tahun 2026, Bukti Tak Harus Bersuara Kencang agar Didengar
Kemudian ia akan antusias dalam mengikuti pelatihan kepemimpinan, proaktif menjadwalkan one-on-one meeting dengan anggota tim, dan mencoba berbagai cara memberikan delegasi. Hasilnya, dalam beberapa bulan, kemampuan memimpinnya berkembang.
Sementara ketika self-efficacy-nya rendah, makai a akan berpikir "Saya bukan tipe pemimpin. Saya pasti gagal." Lalu ia menghindari mengambil keputusan (padahal itu wewenangnya), takut mendelegasikan kepada anggota tim, semua pekerjaan dikerjakan sendiri, dan takut memberi arahan kepada bawahan.
Hasilnya, tim menjadi bingung dan performa menurun.