Hati-hati, Ini Kebiasaan Kerja yang Berisiko Memicu Keguguran di Trimester Pertama Kehamilan

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Senin, 6 Juli 2026 | 11:40 WIB
Ilustrasi: Membungkuk ke depan merupakan aktivitas ibu hamil di tempat kerja yang paling konsisten memicu keguguran.  (Freepik)
Ilustrasi: Membungkuk ke depan merupakan aktivitas ibu hamil di tempat kerja yang paling konsisten memicu keguguran. (Freepik)

PejuangKantoran.com - Kalau pekerjaan kamu mengharuskan kamu untuk banyak berdiri, entah itu perawat, chef atau kru di kitchen, karyawan di bidang retail, guru, dan pekerja konstruksi, hati-hati ya.

Sebuah penelitian baru dari Denmark mengungkapkan bahwa aktivitas fisik seperti berdiri, berjalan, dan terutama membungkuk ke depan saat bekerja, ternyata meningkatkan risiko keguguran di trimester pertama kehamilan.

Penelitian skala besar yang diterbitkan dalam jurnal Occupational and Environmental Medicine (BMJ Group) ini mengamati lebih dari 800.000 kehamilan pekerja wanita di Denmark.

Baca Juga: Mumpung Lagi Piala Dunia, Mercor Buka Loker Football Content Specialist Gaji per Jam!

Dari tiga beban fisik yang diukur, membungkuk ke depan merupakan aktivitas yang paling konsisten memicu keguguran. Risiko ini tetap kuat meski para peneliti juga memperhitungkan faktor usia, tingkat pendidikan, hingga riwayat kehamilan si ibu.

Keguguran sendiri boleh dibilang masalah kehamilan yang paling sering terjadi. Setidaknya, ada sekitar 15% kehamilan yang berakhir keguguran. Selama ini, dampak pekerjaan fisik terhadap risiko keguguran masih abu-abu. Baru penelitian inilah yang mencoba menyodorkan angka pastinya.

Mengukur risiko di tempat kerja

Kelebihan utama dari penelitian ini terletak pada skalanya yang masif. Peneliti menggunakan data dari registrasi nasional yang mencakup ibu bekerja yang hamil di Denmark dari tahun 2004 hingga 2018.

Total, ada 803.829 kehamilan dari 475.312 wanita selama kurun waktu tersebut. Nah, sekitar 10,1% atau 81.307 kehamilan ternyata berakhir dengan keguguran.

Perlu diketahui, peneliti tidak meminta responden untuk mengingat-ingat sendiri seberapa berat pekerjaan mereka, karena metode ingatan seperti itu biasanya kurang akurat.

Baca Juga: Peluang Beasiswa LPDP Tahap 2 Tahun 2026 Lebih Besar, Persyaratan Bahasa Inggris Dilonggarkan

Sebagai gantinya, mereka menggunakan alat ukur khusus bernama PRECISE job exposure matrix. Alat ini menggunakan sensor gerak yang dipasang pada lebih dari 400 pekerja wanita di 100 jenis pekerjaan, ditambah penilaian ahli untuk seribu klasifikasi jabatan.

Setiap pekerja wanita kemudian dinilai berdasarkan berapa jam waktu yang ia habiskan untuk berdiri, berjalan, atau membungkuk, minimal 30 derajat selama shift kerjanya.

Hasil analisis data menunjukkan angka yang cukup mengejutkan. Setiap tambahan satu jam aktivitas membungkuk ke depan dalam sehari, risiko keguguran ternyata naik 36%.

Sementara itu, setiap tambahan satu jam berjalan kaki menaikkan risiko sebesar 18%. Aktivitas berdiri juga menunjukkan kenaikan risiko, meskipun angkanya jauh lebih kecil, yaitu 3% per jam.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Studyfinds

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X