Atau contoh lain, ketika mengalami kesalahan dalam menjalankan tugas, seorang dengan self-efficacy yang tinggi, akan proaktif mencari penyebab kesalahan, sementara yang self-efficacy-nya rendah cenderung menyalahkan keadaan atau menyerah.
Intinya, seseorang dengan self-efficacy tinggi sebenarnya punya keyakinan terhadap kemampuan untuk belajar dan menyelsaikan tugas.
Mengapa Self-Efficacy Tinggi Penting?
Dalam model Job Demands–Resources (JD-R), self-efficacy sering dipandang sebagai salah satu personal resources (sumber daya pribadi). Job Demands–Resources (JD-R) adalah salah satu model psikologi kerja yang menjelaskan mengapa seorang karyawan bisa tetap bersemangat (engaged), punya kinerja tinggi, atau justru mengalami stres dan burnout.
Karyawan dengan self-efficacy tinggi cenderung:
- lebih mudah mengatasi tuntutan pekerjaan (job demands),
- lebih aktif memanfaatkan sumber daya kerja (job resources),
- memiliki work engagement yang lebih tinggi,
- lebih tahan terhadap stres dan burnout,
- menunjukkan kinerja yang lebih baik.
Baca Juga: 8 Strategi yang Harus Dilakukan Oleh Pimpinan Untuk Mendorong Meningkatnya Work Engagement Tim
Jadi, dalam banyak kasus, karyawan dengan self-efficacy tinggi merupakan aset yang layak dipertahankan, karena mereka cenderung memberikan kontribusi yang lebih besar bagi organisasi.
Namun, ada satu catatan penting, yaitu self-efficacy yang tinggi harus disertai dengan kompetensi, integritas, dan kemauan bekerja sama. Jika tidak, keyakinan diri yang tinggi dapat berubah menjadi overconfidence. ***