kubikel

Catat, Karyawan dengan Self-Eficacy Tinggi Itu Aset Penting Organisasi/Perusahaan! Ini Ciri dan Alasannya!

Minggu, 12 Juli 2026 | 16:15 WIB
Karyawan dengan self-efficacy yang tinggi adalah aset perusahaan yang mestinya dipertahankan. Ada sejumlah alasan untuk itu. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)

Atau contoh lain, ketika mengalami kesalahan dalam menjalankan tugas, seorang dengan self-efficacy yang tinggi, akan proaktif mencari penyebab kesalahan, sementara yang self-efficacy-nya rendah cenderung menyalahkan keadaan atau menyerah.

Intinya, seseorang dengan self-efficacy tinggi sebenarnya punya keyakinan terhadap kemampuan untuk belajar dan menyelsaikan tugas.

Mengapa Self-Efficacy Tinggi Penting?

Dalam model Job Demands–Resources (JD-R), self-efficacy sering dipandang sebagai salah satu personal resources (sumber daya pribadi). Job Demands–Resources (JD-R) adalah salah satu model psikologi kerja yang menjelaskan mengapa seorang karyawan bisa tetap bersemangat (engaged), punya kinerja tinggi, atau justru mengalami stres dan burnout.

Karyawan dengan self-efficacy tinggi cenderung:

  • lebih mudah mengatasi tuntutan pekerjaan (job demands),
  • lebih aktif memanfaatkan sumber daya kerja (job resources),
  • memiliki work engagement yang lebih tinggi,
  • lebih tahan terhadap stres dan burnout,
  • menunjukkan kinerja yang lebih baik.

Baca Juga: 8 Strategi yang Harus Dilakukan Oleh Pimpinan Untuk Mendorong Meningkatnya Work Engagement Tim

Jadi, dalam banyak kasus, karyawan dengan self-efficacy tinggi merupakan aset yang layak dipertahankan, karena mereka cenderung memberikan kontribusi yang lebih besar bagi organisasi.

Namun, ada satu catatan penting, yaitu self-efficacy yang tinggi harus disertai dengan kompetensi, integritas, dan kemauan bekerja sama. Jika tidak, keyakinan diri yang tinggi dapat berubah menjadi overconfidence. ***

Halaman:

Tags

Terkini