saving

Dollar Naik? Jangan Panik, Modal Investasi 10.000 rupiah Bisa Bikin Kamu Survive!

Rabu, 3 Juni 2026 | 14:50 WIB
Gen-Z wajib melek keuangan supaya bisa atur strategi biar nggak boncos in this economy. (Freepik)

PejuangKantoran.com - Dollar tembus 17.900 rupiah kadang bikin banyak orang berpikir berulang kali untuk melakukan investasi. Tetapi buat Gen-Z seperti kita sebenarnya kenaikan dollar bisa menjadi momentum dengan memulai investasi dengan strategi Dollar Cost Averaging (DCA). Strategi ini bisa diartikan dengan investasi menggunakan modal receh, bahkan senilai 10 ribu rupiah, tanpa perlu pusing memikirkan naik turunnya harga pasar.

Berikut adalah panduan menerapkan strategi DCA agar portofolio Anda tetap aman dan bebas dari kerugian besar (boncos):

Baca Juga: Imbal Hasil ST016 Berpotensi Ikut Naik Jadi 6,55% dan 6,75% usai BI Naikkan Suku Bunga Acuan

1. Pahami Konsep Dasar DCA Sebagai Metode Investasi Rutin, strategi DCA adalah metode di mana Kamu menginvestasikan jumlah uang yang sama secara rutin dan berkala (misalnya setiap minggu atau setiap bulan), tanpa memedulikan kondisi pasar sedang naik atau turun. Dengan cara ini, Kamu otomatis membeli lebih banyak unit saat harga aset sedang murah (turun) dan membeli lebih sedikit unit saat harga aset sedang mahal (naik).

2. Mulai dengan Modal Minimal Mulai dari Rp10.000, Kamu tidak perlu menunggu punya uang jutaan rupiah untuk menjadi seorang investor di tengah ketidakpastian ekonomi. Banyak platform investasi digital resmi saat ini yang mengizinkan pembelian reksa dana atau emas mulai dari Rp10.000, sehingga nominal ini sangat ramah di kantong dan tidak mengganggu alokasi kebutuhan harian Kamu.

3. Hilangkan Kebiasaan Memantau Pergerakan Pasar Setiap Hari, tidak perlu jadi analis buat tetap konsisten. Kamu tidak perlu memantau pergerakan pasar setiap saat, kunci utama keberhasilan DCA adalah disiplin dan konsistensi, bukan menebak arah pasar (market timing). Menatap titik tertinggi atau terendah grafik investasi setiap jam hanya membuat panik yang ujung-ujungnya malah bisa menjadi panic buying atau sebaliknya. Percayalah pada proses jangka panjang karena fluktuasi harian akan tersaring dengan rata-rata harga beli Anda.

4. Manfaatkan Fitur Autodebit (Auto-Invest) Aplikasi Finansial, disiplin finansial bisa dibentuk secara instan dengan memanfaatkan teknologi fitur investasi otomatis yang disediakan oleh berbagai aplikasi pembuat reksa dana. Dengan mengatur jadwal autodebit tepat pada hari gajian, uang Anda akan langsung dialokasikan ke pos investasi sebelum habis terpakai untuk pos konsumtif atau belanja impulsif lainnya.

5. Pilih Instrumen Investasi Berisiko Rendah hingga Moderat, saat kondisi mata uang sedang bergejolak, alokasikan modal Rp10.000 Kamu ke instrumen yang cenderung stabil namun tetap bertumbuh, seperti reksa dana pasar uang atau reksa dana pendapatan tetap. Instrumen ini memiliki risiko fluktuasi yang jauh lebih rendah dibandingkan saham tunggal atau kripto, sehingga sangat cocok sebagai wadah belajar bagi para investor pemula.

Baca Juga: Pahami Penyebab Mata Uang Melemah, Meski Orang Desa Nggak Pakai Dollar buat Transaksi

Baca Juga: Tidur Dengan Ponsel Dekat Kepala Tidak Memicu Kanker, Namun Awas Bahaya-Bahaya Lain Mengancam!

Tags

Terkini