Pejuangkantoran.com – Temuan dari OJK yang menyatakan bahwa per Maret 2026, penyumbang pendanaan macet dari industri pinjol adalah kelompok usia 19-34 tahun (Gen Z dan Millenial) sebesar 48,65 persen.
Ini sebagian pernyataan yang disampaikan oleh Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman, yang dikutip oleh akun X @kumparan.
Kredit macet pinjol ini paling banyak digunakan untuk keperluan yang sifatnya konsumtif. Gaya hidup konsumtif ini makin klop dengan maraknya layanan “buy now pay later”. Konsumen beranggapan bisa membayar di kemudian hari.
Ini adalah salah satu dampak dari future income optimism, yaitu keyakinan atau ekspektasi seseorang bahwa pendapatan mereka di masa depan akan meningkat atau setidaknya membaik dibanding kondisi sekarang.
Dari konsep ini menjelaskan mengapa seseorang berani utang sekarang, nyicil barang, menggunakan paylater, mengambil KPR besar, atau meningkatkan gaya hidup. Ini karena mereka yakin dan percaya bahwa “nanti penghasilan saya akan lebih tinggi.”
Teori yang digagas oleh Milton Friedman pada tahun 1975 ini menyebutkan bahwa orang tidak mengonsumsi berdasarkan pendapatan saat ini saja, tetapi berdasarkan pendapatan yang mereka harapkan sepanjang hidupnya.
Budaya “nanti gaji juga akan naik” adalah cerminan future income optimism. Di era digital, konsep ini makin diperkuat dengan adanya medsos, fintech, paylater, budaya hustle, dan konten “success lifestyle”.
Baca Juga: 12 Poin Penting Agar Gen Z First Jobber Tidak Terjebak Gaya Hidup Utang
Positif-Negatif
Ini mendorong anak muda kebanyakan untuk berpikir bahwa kenaikan income di masa depan adalah sesuatu yang pasti, padahal sebenarnya penuh risiko. Apalagi saat ini.
Secara positif, future income optimism bisa mendorong orang untuk berinvestasi dalam dunia pendidikan, misal ambil S2 atau sertifkasi profesi dengan biaya pinjaman dari lembaga keuangan. Lalu, di kalangan tertentu berani membangun usaha, dan sebagainya.
Namun, sisi negatifnya, jika optimisme ini berlebihan bisa menyebabkan overleverage, utang konsumtif, lifestyle inflation, gagal bayar, dan financial fragility. Ini bisanya terkait dengan optimism bias dan overconfidence bias.
Misal, seorang first jobber dengan gaji Rp5 juta per bulan ambil cicilan sepeda motor. Ia berani melakukan itu, karena secara mental ia menghitung “2-3 tahun lagi gaji saya pasti menjadi Rp10 juta per bulan.”
Future income optimism seperti ini bisa menjadi masalah ketika, misal, kenaikan gaji tidak terjadi, terkena PHK, ekonomi melambat, atau pengeluaran naik lebih cepat daripada income. Ujung-ujungnya, kredit macet, gagal bayar.
Artikel Terkait
Panduan Bagi First Jobber Apakah Dia Sudah Bekerja di Perusahaan yang Tepat Atau Belum
6 Ide Side Hustle atau Penghasilan Sampingan Dalam Ekosistem Digital Bagi Karyawan atau Pegawai
8 Cara Menyisihkan Uang untuk Dana Darurat, Biar Kamu Tenang Mau Resign Kapan Saja
7 Red Flag Finansial yang Sering Diabaikan, Bisa Bikin Ekonomi Kamu Boncos
57 Persen Gen Z Punya Side Hustle, Tanda Anak Muda Tak Lagi Andalkan Satu Pekerjaan
Jangan Asal Beli yang Murah! Tips Hindari Jebakan Vimes Boots Theory Bagi First Jobber!