Pahami Penyebab Mata Uang Melemah, Meski Orang Desa Nggak Pakai Dollar buat Transaksi

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Minggu, 17 Mei 2026 | 13:54 WIB
Ilustrasi: Apa penyebab mata uang melemah? Apa kaitannya dengan situasi politik di suatu negara? (Freepik/8photo)
Ilustrasi: Apa penyebab mata uang melemah? Apa kaitannya dengan situasi politik di suatu negara? (Freepik/8photo)

PejuangKantoran.comNilai tukar rupiah yang menyentuh level Rp17.600/dollar AS per Jumat (15/5/2026) lalu, merupakan yang terlemah sepanjang sejarah. Namun, Presiden Prabowo Subianto tidak setuju jika perekonomian Indonesia disebut suram.

“Orang rakyat di desa enggak pake dolar kok," tukas Prabowo, saat meresmikan Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026).

Pernyataannya tersebut menimbulkan perbincangan “panas” di kalangan pengamat maupun masyarakat luas. Betulkah orang desa tidak terpengaruh nilai dollar yang naik? Apa yang sebenarnya penyebab nilai rupiah disebut melemah?

Baca Juga: Ibnu Jamil Pakai Gaya Parenting-nya untuk Peran Ayah di 'Yang Lain Boleh Hilang Asal Kau Jangan'

Yuk, coba kita pahami pelan-pelan.

Pelemahan nilai mata uang atau depresiasi terjadi ketika nilainya turun jika dibandingkan dengan mata uang negara lain, seperti dollar AS atau euro. Penurunan ini bukan cuma bisa dilihat dari angka di papan kurs bank, tapi punya dampak nyata buat kita.

Lalu, apa sebenarnya penyebab mata uang melemah?

1. Inflasi yang tinggi (harga barang naik)

Inflasi itu boleh dibilang musuh utama nilai mata uang. Ketika harga barang-barang di dalam negeri naik terus, daya beli kita otomatis berkurang.

Dulu dengan uang Rp50.000 kita bisa dapat banyak barang. Sekarang, cuma dapat sedikit. Coba tanya berapa uang belanja ibu kamu dalam sehari, deh.

Baca Juga: Karyawan Meta Protes, Perusahaan Memasang Teknologi Pelacakan Pergerakan Mouse di Laptop Mereka

Kalau kondisi ini terus terjadi, investor asing bakal kehilangan kepercayaan dan mulai meninggalkan mata uang tersebut. Alhasil, nilai rupiah bakal makin terpuruk.

2. Ketidakstabilan politik

Nah, ini yang relate banget sama yang terjadi di Indonesia. Uang itu sensitif banget dengan rasa aman. Kalau suatu negara sedang mengalami konflik politik, demo besar-besaran, atau ketidakpastian hukum, investor akan merasa tidak aman.

Mereka akan buru-buru menyelamatkan aset mereka dan menukarnya ke mata uang yang lebih stabil. Akibatnya, terjadi penarikan modal besar-besaran yang bikin mata uang melemah.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Investopedia, Kompas.com, CNBC Indonesia

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X