Pejuangkantoran.com – Pernah mendengar atau justru kamu yang mengucapkan kalimat seperti ini “Rekening gua di bank cuma buat gaji lewat doang!”
Meskipun nadanya bercanda saat diucapkan di antara circle sendiri dan diiringi dengan ketawa, namun "gaji lewat" ini kenyataan pahit yang mungkin banyak dialami individu.
Kondisi ini terjadi ketika seseorang menghabiskan hampir seluruh gajinya untuk memenuhi kebutuhan hidup hingga harus menunggu gaji berikutnya untuk bisa membayar pengeluaran selanjutnya.
Jadi, setelah menerima gaji, uangnya digunakan untuk membayar sewa/cicilan, makan, transportasi, tagihan, dan kebutuhan lainnya. Di “tanggal tua”, uang hampir habis atau bahkan benar-benar sudah habis.
Istilah populernya: paycheck to paycheck. Paycheck to paycheck atua "gaji lewat" berarti bergantung pada gaji berikutnya untuk memenuhi kebutuhan hidup karena hampir tidak memiliki sisa uang atau tabungan.
Ini jelas bukan kondisi ideal yang harus dijalani seorang indvidu atau keluarga. Dalam kondisi paycheck to paycheck, jika terjadi pengeluaran mendadak (misalnya sakit atau kendaraan rusak), orang tersebut mungkin kesulitan karena tidak memiliki tabungan atau dana darurat yang cukup.
Baca Juga: 8 Cara Menyisihkan Uang untuk Dana Darurat, Biar Kamu Tenang Mau Resign Kapan Saja
Yang perlu digaris bawahi, kondisi paycheck to paycheck tidak selalu berati miskin. Seseorang dengan gaji tinggi pun bisa mengalami kondisi ini ketika pengeluarannya hampir sama besar dengan pendapatannya.
Misalnya, seseorang bergaji Rp50 juta per bulan tetapi memiliki cicilan rumah, mobil, kartu kredit, dan gaya hidup yang menghabiskan hampir seluruh gajinya.
Jadi, penyebab "gaji lewat" umumnya karena kombinasi faktor ekonomi, perilaku keuangan, dan kondisi pribadi.
Berikut daftar penyebabnya yang paling umum:
- Penghasilan tidak mencukupi kebutuhan hidup
Ini merupakan penyebab utama bagi banyak orang. Upah tidak sebanding dengan biaya hidup. Inflasi menyebabkan harga kebutuhan pokok naik lebih cepat daripada kenaikan gaji. Dan tinggal di daerah dengan biaya hidup tinggi.
- Pengeluaran terlalu besar
Pendapatan sebenarnya cukup, tetapi pengeluaran hampir menyamai atau bahkan melebihi pendapatan.
Penyebabnya: gaya hidup yang meningkat seiring kenaikan gaji (lifestyle inflation). Misal, terlalu sering makan di luar, berbelanja, atau berlangganan berbagai layanan.