PejuangKantoran.com - Entahlah apa salah kopi. Setiap bulan, sepertinya orang selalu mengatakan bahwa kopi membuat kita boros dan merugikan keuangan kita.
Memang sih, membeli kopi setiap hari bisa bikin boros. Bayangkan jika setiap hari kita membeli kopi seharga Rp25.000 saja, maka dalam sebulan kita menghabiskan Rp500.000-Rp700.000. Kopi Starbucks tentunya lebih mahal. Tetapi apa benar kebiasaan ini bisa merugikan keuangan?
Tentu, mungkin ide yang bagus untuk mengurangi kebiasaan membeli kopi. Tetapi berhenti membeli kopi saja tidak akan banyak memperbaiki kesalahan dalam mengelola keuangan.
Baca Juga: Cara Gen Z Menginvestasikan Uang yang Bikin Mereka Mendapatkan Keuntungan Langsung
Ada enam hal yang lebih merugikan keuangan daripada kecanduan membeli kopi:
1. Tidak membuat anggaran
Kalau tidak punya anggaran, kita mungkin menghabiskan terlalu banyak uang untuk hal-hal kecil, seperti layanan pesan antar makanan, atau untuk hal-hal yang lebih besar, seperti gonta-ganti mobil, atau liburan yang sebenarnya tidak mampu kita beli.
Menurut pakar keuangan Dave Ramsey, ketika punya anggaran, kita bisa membuat rencana untuk membelanjakan uang untuk hal-hal yang kita perlukan. Kita berhenti membuang-buang uang untuk hal-hal yang tidak kita sukai dan mungkin tidak kita perlukan.
2. Tidak meminta kenaikan gaji
Mengurangi pengeluaran adalah strategi cerdas untuk membangun kekayaan, tetapi meningkatkan penghasilan juga sama pentingnya. Kapan terakhir kali kamu memastikan bahwa kamu sudah dibayar secara adil untuk pekerjaan yang Anda lakukan?
Negosiasi untuk kenaikan gaji yang layak bisa mengubah situasi keuangan kita secara dramatis, lho. Kenaikan gaji sebesar Rp500.000 bisa membayar kebiasaan ngopi kita. Nilainya bahkan lebih besar lagi sepanjang karier kita.
Baca Juga: Menyimpan Dana Tunai Lebih Penting Saat Resesi? Begini Cara Mempertahankan Dana Tunai Kamu!
3. Membeli rumah dengan harga di luar budget
Membeli rumah karena adanya semacam tekanan sosial untuk melakukannya, bukan merupakan keputusan terbaik. Apalagi, jika rumah yang kita incar harganya terlalu tinggi dan kita memaksakan diri untuk membelinya.
Ketika membeli rumah atau apartemen, bukan cicilan bulanan yang akan kita keluarkan, tetapi juga biaya pemeliharaan wajib, PBB, biaya asuransi, renovasi, kebutuhan untuk “mengisi” rumah, dan berbagai pemeliharaan tak terduga lainnya.
Artikel Terkait
Belajar dari Kasus Pemerkosaan Kemenkop, Jangan Biarkan Pelecehan Seksual di Kantor Terjadi Lagi!
10 Hal yang Harus Diperhatikan Saat Membuat Surat Lamaran Beasiswa yang Baik
Agar Tidak Panik, Bersiaplah Menghadapi Kemungkinan PHK dengan Career Cushioning
Manfaat Sarapan: Bikin Fokus Kerja, Turunkan Berat Badan, Sampai Cegah Depresi
Lowongan Pekerjaan IT Architect Technology and Innovation Head di PT Bussan Auto Finance
Dari Dikta Sampai Wulan Guritno, Deretan Pemain Bintang di 15 Serial Terbaru Vidio