PejuangKantoran.com - Menggarap film seperti Women From Rote Island yang diangkat dari realita sosial merupakan tugas berat bagi penulis dan sutradara Jeremias Nyangoen.
Namun sebagai debut penyutradaraannya di film panjang, Women From Rote Island membuahkan prestasi tersendiri bagi Jeremias Nyangoen.
Selain ditayangkan perdana di Festival Film Internasional Busan, Oktober lalu, film ini juga berhasil membawa pulang 4 Piala Citra dari FFI 2023, yaitu Film Cerita Panjang Terbaik, Sutradara Terbaik, Penulis Skenario Asli Terbaik, dan Pengarah Sinematografi Terbaik.
Baca Juga: Women From Rote Island: Tingginya Kasus Pelecehan Seksual di Balik Keindahan Alam Pulau Rote
Banyak hal menarik yang diungkapkan Jeremias Nyangoen dan para pemain mengenai proses pembuatan Women From Rote Island. Misalnya, walaupun berdasarkan peristiwa yang pernah terjadi, ia enggan menyebut bahwa film ini berdasarkan kisah nyata.
“Saya takut mengatakan bahwa ini true story karena ada pertanggungjawaban. Ada satu adegan yang tidak pernah terjadi di luar cerita yang saya masukkan,” ungkap Jeremias, usai pemutaran film di Jogja-NETPAC Asian Film Festival ke-18, beberapa waktu lalu.
Dalam film Women From Rote Island ini juga banyak sekali adegan kekerasan seksual yang digambarkan secara eksplisit. Sebagai salah satu contohnya saja, gambaran depresi yang dialami Martha, aktris Irma Novita Rihi berani tampil tanpa busana.
Namun, menurut Jeremias, penggambaran adegan tersebut sudah merupakan hasil kompromi dengan pemain.
“Sebenarnya, untuk beberapa tokoh, ini tidak seberapa karena peristiwa-peristiwa sesungguhnya yang akan disajikan sebenarnya lebih sangat mengerikan. Tapi, saya kompromi. Jadi, nanti tunggu director’s cut ya!” ujar sutradara yang kerap dipanggil Pak Jeri ini.
Hunting pemain sampai ke rumah bordil
Mencari pemeran Orpha bersama kedua anaknya, Martha dan Bertha, pun bukan hal yang mudah. Jeri bertekad untuk mendapatkan aktris yang secara karakter wajah (fisionomi) memiliki kesamaan, sekaligus bisa menyampaikan emosi-emosi yang cukup berat di film ini.
Baca Juga: 95% Penerima Program Kartu Prakerja Alami Peningkatan Peluang Kerja Setelah Kembali ke Skema Normal
“Peng-casting-an berjalan cukup panjang, hampir 3-4 bulan, dan saya turun tangan langsung mencari tokoh Martha, Bertha dan Orpha.
“Mencocokkan fisionomi ketiganya itu tidak gampang. Sampai tim talent scout meminta izin kepada saya untuk mencari pemain dari rumah bordil. Sampai segitu sulitnya untuk bisa ketemu.
“Tapi, saya bilang ke mereka saya yakin akan mendapatkan pemain-pemain itu. Dan, terbukti seminggu sebelum kita latihan, kita mendapatkan,” terang Jeri.
Artikel Terkait
Liburan Enaknya Kemana? Ini Destinasi Wisata Seru yang Bisa Dikunjungi, Mumpung Masih Gajian
Konten Positif, Kimbab Family Dapat Penghargaan Keluarga Multikultur Terbaik dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
20.444 Pengunjung Hadiri Jogja-NETPAC Asian Film Festival ke-18. Siapa Pemenang Golden Hanoman?
Taste atau Cita Rasa Asam, Asin, dan Manis pada Menu Kuliner Indonesia, Ini Fungsinya
Plastik Ramah Lingkungan Tersemat di Smartphone Premium, Ini Faedahnya
Mengapa Orang Jepang Tak Bisa Lepas dari Smartphone atau Ponsel Pintar?
Daging Sapi Australia Lebih Empuk daripada Daging Sapi Lokal Indonesia, Kok Bisa?