Melalui Dua Hati Biru, Sutradara Gina S. Noer Ingin Menjawab Kegalauan Gen Z soal Hidup Pernikahan

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Rabu, 17 April 2024 | 09:39 WIB
Gina S. Noer (kanan) dan Dinna Jasanti, duet sutradara Dua Hati Biru. (Instagram @ginasnoer)
Gina S. Noer (kanan) dan Dinna Jasanti, duet sutradara Dua Hati Biru. (Instagram @ginasnoer)

PejuangKantoran.com - Setelah sukses dengan film Dua Garis Biru, produser Salman Aristo dan sang istri, sutradara Gina S. Noer, melanjutkan kisah film yang dirilis tahun 2019 itu ke dalam Dua Hati Biru.

Menurut mereka, kisah Bima dan Dara dalam Dua Garis Biru perlu dilanjutkan karena Salman melihat hubungan keluarga jarang ada yang sempurna. Banyak dinamika yang harus dilalui pasangan suami istri bersama anak bahkan mertua.

Baca Juga: Berperan sebagai Ayah di Dua Hati Biru, Angga Yunanda: Latihan Jadi Bapak Muda dari Sekarang!

Namun, yang terpenting adalah bagaimana permasalahan masalah yang ada dihadapi sebagai satu keluarga.

“Tantangannya adalah meneruskan dari Dua Garis Biru, kisah Bima dan Dara yang memasuki tahap kedua yang lebih kompleks.

“Keluarga ini tahu mereka bukan keluarga sempurna, tapi mereka berjuang untuk menyatukan hubungan, untuk mengeratkan diri,” ujar Gina S. Noer, saat konferensi pers Dua Hati Biru di Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta, Kamis (4/4/2024).

Semangat atau pesan untuk bersatu sebagai keluarga dalam kondisi apapun dirasa perlu diangkat, setelah melihat fenomena ketidakharmonisan keluarga yang sering kali diviralkan melalui media sosial.

Baca Juga: Dua Hati Biru, Utang Para Pembuat Film tentang Kelanjutan Kisah Bima dan Dara di Dua Garis Biru

“Kita sering sekali melihat berita-berita buruk tentang pernikahan di media sosial sampai-sampai Gen Z skeptis mempertanyakan, kenapa sih harus menikah, kenapa harus punya anak?

“Yang tidak disadari (Gen Z) adalah, bahwa peristiwa seperti itu hanya puncak gunung es. Pernikahan merupakan perjalanan panjang yang bisa (berjalan hingga) 80 tahun ke depan dan itu yang paling berharga,” terang sutradara Like & Share ini.

Bahkan sebagai istri yang sudah menikah 18 tahun lebih, Gina merasa konflik dan permasalahan dalam keluarga akan terus ada.

“Iya, sebenarnya konflik-konflik kecil itu muncul dari percakapan-percakapan sulit. Bahkan saya di umur 39 tahun, hal itu masih terjadi dan terkadang dilakukan oleh orang-orang terdekat kita,” tambahnya.

Baca Juga: Putri Ayudya Sempat Kewalahan saat Bertindak sebagai Pelatih Akting Aktor Cilik di Dua Hati Biru

Belum lagi persoalan sosial yang sudah ada turun-temurun sebagai efek dari adat dan tradisi. Salah satunya mengenai beban pengasuhan anak yang diserahkan sepenuhnya pada ibu, sehingga sosok ayah seolah merasa tidak perlu hadir karena sudah sibuk bekerja.

“Yang ada kita sekarang ini dianggap sebagai fatherless nation. Kayak di momen mana saja bapak dibiasakan hadir dan kalaupun ingin (hadir untuk anak), kebanyakan bapak tidak tahu bagaimana caranya!” tukas Gina, yang juga menjadi penulis skenario film ini.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X